RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember menyiapkan Kereta Api Pandanwangi sebagai moda transportasi alternatif selama penutupan total Jalur Gumitir, yang akan berlangsung dari 24 Juli hingga 24 September 2025.
Langkah ini menjadi respons cepat atas kebijakan penutupan jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi karena adanya pekerjaan perbaikan infrastruktur oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali.
Penutupan Jalur Gumitir: Dampak dan Rute Alternatif
Penutupan sepanjang 115 meter di KM 233+500 dilakukan secara total untuk semua jenis kendaraan, termasuk roda dua dan kendaraan berat.
Penggunaan alat berat dalam perbaikan jalan dan jembatan membuat badan jalan tidak dapat dilalui dengan aman.
Dampaknya, arus kendaraan dialihkan ke beberapa jalur alternatif:
- Jember ke Banyuwangi: via Bondowoso – Situbondo – Banyuwangi
- Kendaraan berat (lebih dari 15 ton): melalui jalur pantura Lumajang – Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi
- Dari Surabaya dan Lumajang ke Banyuwangi: diarahkan melalui Leces – Probolinggo – Situbondo – Banyuwangi
KA Pandanwangi: Solusi Ramah Lingkungan dan Terjangkau
Kereta Api Pandanwangi yang melayani rute Jember–Ketapang (PP) kini diposisikan sebagai tulang punggung transportasi di wilayah terdampak.
KA ini mengalami peningkatan penumpang signifikan pada semester I 2025, dengan total 1.149.434 penumpang, naik 21 persen dibanding tahun sebelumnya.
Selain tarif yang terjangkau, Pandanwangi dikenal dengan ketepatan waktu dan kapasitas besar, menjadikannya pilihan utama bagi masyarakat Tapal Kuda.
Menurut Manajer Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, pihaknya telah menyiapkan penambahan titik pemberhentian agar aksesibilitas warga tetap terjaga.
Beberapa stasiun yang sebelumnya tidak menjadi tempat berhenti kini akan difungsikan, antara lain Stasiun Garahan dan Stasiun Silo.
Kebijakan ini bertujuan memudahkan mobilitas masyarakat yang selama ini mengandalkan akses darat via Gumitir.
Koordinasi Pemerintah Daerah dan Dishub
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, melalui Dinas Perhubungan (Dishub), telah menjalin koordinasi intensif dengan PT KAI Daop 9 Jember dan operator bus untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan transportasi.
Kepala Dishub Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, menegaskan bahwa koordinasi ini mencakup penambahan titik berhenti kereta api dan penyesuaian trayek dan titik keberangkatan armada bus.
Salah satu contoh konkret adalah Bus Damri jurusan Jember–Denpasar yang kini akan berangkat dari Stasiun Kalibaru, mengharuskan penumpang naik kereta terlebih dahulu dari Jember ke Kalibaru.
Transportasi Terintegrasi Demi Kenyamanan Masyarakat
Langkah antisipatif ini tidak hanya memastikan kelancaran mobilitas selama penutupan jalan, tetapi juga menunjukkan sinergi antara moda transportasi kereta dan bus.
Pemanfaatan kereta api sebagai tulang punggung transportasi selama masa darurat ini sekaligus mendukung prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), terutama dalam pengurangan emisi karbon dan peningkatan efisiensi transportasi publik. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Lugas Rumpakaadi