Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerita Sopir 30 Jam Terjebak Macet Horor Ketapang: Tidur di Jalan, Pepaya Busuk di Jalan

Ali Sodiqin • Senin, 21 Juli 2025 | 20:56 WIB
Suasana pintu masuk Pelabuhan Ketapang Banyuwangi pukul 09.50 WIB (21/7).
Suasana pintu masuk Pelabuhan Ketapang Banyuwangi pukul 09.50 WIB (21/7).

RADARBANYUWANGI.ID – Sudah 7 hari terakhir, jalur menuju Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi lumpuh total.

Meski tak seperti Kamis (17/7) dan Jumat (18/7) lalu yang macet hingga 23 kilometer, pada Senin (21/7) pagi antrean kendaraan masih tampak mengular dari arah Situbondo maupun pusat kota Banyuwangi.

Para pengendara, mulai sopir truk logistik, kendaraan pribadi, hingga penumpang bus antarkota, dibuat kelelahan oleh kemacetan yang nyaris tak bergerak.

Edy Supriyono, pengendara asal Situbondo yang hendak ke Banyuwangi, saat ini mobilnya terjebak di utara Ketapang menuju pelabuhan.

“Akhirnya apa yang saya khawatirkan terjadi juga. Putar balik gak bisa. Harus sabar,” katanya.

Untungnya, kemacetan yang menjebak Edy tidak terlalu lalu. “Sekitar satu jam macet di ketapang. Untungnya saya sudah bisa keluar dari kemacetan,” katanya.

Berbeda dengan tiga hari yang lalu. Kamis dan Jumat (17-19/7/2025), adalah puncak kemacetan di jalur Ketapang-Wongsorejo. Bahkan ekornya sampai ke Hutan baluran.

Salah satu korban saat itu, Hendrik Salamun, penumpang bus jurusan Denpasar–Surabaya, menjadi salah satu korban macet maraton tersebut. Ia mengaku terjebak hingga 30 jam.

“Berangkat pukul 04.00 WITA dari Denpasar, baru nyebrang sembilan jam kemudian. Tapi sekarang (siang kemarin, Red) masih tertahan di sekitar jembatan Timbang,” keluhnya.

Penyebab utama lumpuhnya arus lalu lintas menuju pelabuhan adalah larangan berlayar terhadap 15 kapal jenis landing craft tank (LCT) oleh Kementerian Perhubungan, pasca-tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, 14 Juli lalu.

Hanya lima kapal yang saat ini dinyatakan layak operasi oleh KSOP Tanjung Wangi.

Ironisnya, meski antrean kendaraan mengular di luar pelabuhan, kondisi di dalam justru terlihat lengang.

Banyak sopir kehilangan arah dan terpaksa saling serobot demi mendekati dermaga, yang justru memperparah kemacetan.

Pepaya Membusuk, Waktu Terbuang

Tak hanya fisik yang terkuras, kerugian ekonomi pun mulai dirasakan.

Ryan, sopir pickup bermuatan buah pepaya tujuan Bali, harus merelakan sebagian hasil panennya rusak akibat tertahan selama berjam-jam.

“Dari jam 3 sore saya kena macet sampai jam 6 malam baru bisa masuk area pelabuhan. Pepaya bisa turun kualitasnya, nilainya Rp 10 juta,” keluh Ryan.

Ia berhasil melanjutkan perjalanan, tapi kualitas buah yang sudah menurun membuat harga jualnya tak lagi optimal.

Hal senada juga disampaikan Bowo Sulihtiyo, sopir ekspedisi dari Surabaya. Ia sudah menunggu sejak pukul 04.00 pagi dan belum bisa masuk kapal hingga menjelang siang.

“Waktu habis, biaya juga tekor. Saya bawa barang dengan tenggat waktu. Tapi ini enggak jalan-jalan,” ucapnya.

Warga dan Wisatawan Ikut Terdampak

Tak hanya pengemudi dan penumpang, warga sekitar Pelabuhan Ketapang pun ikut mengeluhkan kondisi yang tak kunjung membaik. Jalur alternatif tertutup kendaraan antre, dan akses warga menjadi terbatas.

“Lima hari ini saya cuma bisa kerja dan pulang. Mau keluar rumah saja bingung karena kendaraan di mana-mana,” kata Yosi Mulyana, warga sekitar pelabuhan.

Wisatawan pun kena getahnya. Ardi, 32, asal Tangerang, harus mengorbankan waktu bertemu keluarga karena terjebak macet selama lima jam.

“Tadinya mau santai, sarapan dulu di kota. Eh enggak taunya dari patung penari sampai pelabuhan dua jam, sisanya nunggu antrean kapal,” keluhnya.

Sistem Amburadul, Polisi Turun Tangan

Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia, Slamet Barokah, menilai akar masalah bukan semata kekurangan kapal, tapi ketidakteraturan antrean.

“Masalahnya antrean kacau, enggak ada buffer zone yang cukup. Harusnya kalau mau tertibkan kapal, disiapkan dulu fasilitas pendukungnya,” tegasnya.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Rama Samtama Putra pun turun tangan. Ia menerjunkan satu kompi personel untuk mengurai kemacetan dan melakukan penertiban kendaraan yang menerobos jalur.

“Kami sudah koordinasi dengan KSOP. Satu kapal berkapasitas 60 truk sudah dioperasikan. Penataan antrean dan penambahan kapal sedang kami upayakan,” katanya.

Sementara itu, di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, kemacetan yang sama terjadi. Petugas memberlakukan sistem buka-tutup jalur sebagai langkah darurat.

Namun, hingga kemarin malam, antrean kendaraan dari arah Bangsring hingga ke SPBU Ketapang masih padat merayap.

Banyak sopir terlihat keluar dari kendaraannya, duduk di trotoar, dan bersandar di truk sambil menatap kosong ke ujung antrean yang tak kunjung bergerak.

"Kami bukan minta istimewa, cuma minta bisa kerja lancar," gumam Bowo pelan, sebelum kembali masuk ke kabin truknya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#sopir terjebak macet #pelabuhan ketapang #baluran #macet horor #busuk #banyuwangi #Pepaya