Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Cuma Longsor, Ini Sisi Mistis Jalur Gumitir yang Bikin Pengendara Merinding

Lugas Rumpakaadi • Senin, 21 Juli 2025 | 17:10 WIB
Jalur Gumitir menyimpan kisah mistis dan kerentanan fisik.
Jalur Gumitir menyimpan kisah mistis dan kerentanan fisik.

RADARBANYUWANGI.ID - Gunung Gumitir bukan hanya sekadar jalur penghubung antara Kabupaten Jember dan Banyuwangi.

Jalan nasional yang membelah hutan tropis ini menyimpan perpaduan antara peran vital dalam logistik, jejak sejarah kolonial, hingga misteri yang masih menjadi cerita turun-temurun masyarakat setempat.

Dari aroma kopi perkebunan hingga bisikan dari balik kabut malam membuat Gumitir tak hanya jalur transportasi semata, tetapi juga lorong waktu yang menyimpan ribuan rahasia.

Sisi Mistis Jalur Gumitir, Antara "Pasar Setan" dan Patung Gandrung yang Bergerak

Di balik keindahan hutan yang memayungi Jalur Gumitir, tersembunyi kisah-kisah mistis yang telah lama hidup dalam budaya lisan masyarakat.

Salah satu cerita yang paling melegenda adalah tentang "Pasar Setan", pasar gaib yang konon hanya muncul di waktu-waktu tertentu, khususnya dini hari.

Beberapa pengendara mengaku melihat keramaian yang menyerupai pasar malam, lengkap dengan pedagang dan anak kecil yang merajuk ingin jajan.

Namun, keanehan baru terasa setelah mereka menjauh dari lokasi, apa yang dibeli ternyata bukan makanan, melainkan bunga tujuh rupa, simbol spiritual yang sering diasosiasikan dengan dunia lain.

Kisah mistis tak berhenti di situ. Di pintu masuk kawasan Gumitir berdiri patung Gandrung, simbol budaya Banyuwangi yang juga menyimpan misteri.

Sejumlah pengendara pernah melihat tangan patung tersebut seperti bergerak perlahan, seolah sedang menari.

Benar atau tidak, patung ini kerap dianggap sebagai gerbang menuju “alam lain”. Tak jauh dari sana, terdapat villa tua peninggalan kolonial milik PTPN XII yang kini terbengkalai.

Warga setempat menyebutnya sebagai "istana makhluk halus". Sosok noni Belanda kerap muncul di lorong bangunan, dan tikungan di depan villa disebut sebagai titik rawan kecelakaan.

Cerita lain menyebutkan tentang penampakan pocong yang menumpang di jok belakang sepeda motor tanpa sepengetahuan pengendara.

Kejadian tersebut membuat kru bus dan penumpang histeris, sebelum sosok itu menghilang saat melintasi gapura perbatasan.

Retakan dan Longsor, Kerentanan Fisik Jalur Gumitir yang Mengkhawatirkan

Terlepas dari cerita-cerita mistis, Jalur Gumitir juga menghadapi persoalan yang jauh lebih nyata, kerusakan fisik dan ancaman longsor.

Kondisi geografis Gunung Gumitir yang merupakan sisa gunung api purba membuat strukturnya rapuh dan rawan pergerakan tanah.

Retakan di sejumlah titik dan longsor berulang memperlihatkan bahwa jalur ini tidak lagi stabil, terlebih saat musim hujan tiba. KM 233+500, tepatnya di daerah Mbah Singo, menjadi titik kritis.

Pemerintah pun berencana melakukan penutupan total dari 24 Juli hingga 24 September 2025 demi revitalisasi jalan menggunakan teknologi bored pile. Volume kendaraan berat yang melintas setiap hari turut mempercepat proses pelapukan jalan.

“Alam punya cara menyembuhkan dirinya sendiri, salah satunya lewat longsor,” ujar Abdillah Baraas, General Manager Unesco Global Geopark Ijen.

Dampak Ekonomi dan Mobilitas, Penutupan Gumitir yang Jadi Isu Nasional

Penutupan total ini bukan hanya menimbulkan kemacetan, tetapi juga mengancam stabilitas distribusi logistik.

Jalur Gumitir adalah nadi ekonomi yang menyuplai bahan pokok, BBM, hingga hasil pertanian.

Jalur alternatif melalui Bondowoso atau Situbondo tidak mampu menampung beban kendaraan besar seperti truk tangki BBM karena keterbatasan daya dukung jembatan.

Banyak pihak khawatir distribusi tersendat akan menaikkan harga sembako, terutama di pasar tradisional.

Pemerintah daerah pun mendorong agar skema buka-tutup jalan dapat diterapkan, namun ditolak oleh pihak BPJN karena risiko longsor yang tinggi.

Sebagai solusi sementara, pemerintah membuka jalur alternatif darurat bagi sepeda motor melalui kebun kopi milik PTPN XII dari Simpang Tiga Mrawan ke Kalibaru Wetan.

Meski bisa dilalui, jalur ini hanya layak digunakan saat siang hari dan sangat tidak disarankan saat malam.

Jalur yang Menyimpan Luka, Legenda, dan Harapan

Jalur Gumitir adalah potret paradoks, jalan strategis sekaligus saksi bisu sejarah kelam, sarat misteri, namun juga menyimpan potensi bencana.

Penutupan total selama dua bulan mendatang adalah momentum penting untuk memperbaiki infrastruktur, namun juga menjadi ujian koordinasi antar instansi dalam menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Saat infrastruktur diperkuat, jangan sampai jaringan distribusi dan kebutuhan masyarakat dikorbankan.

Dan bagi mereka yang pernah melewati jalan ini, rasa mencekam dan kisah yang tertinggal tak pernah benar-benar hilang. (*)


Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Jalur Gumitir