RADARBANYUWANGI.ID – Kemacetan panjang menuju Pelabuhan ASDP Ketapang memasuki hari kelima.
Lalu lintas dari arah Situbondo dan pusat Kota Banyuwangi lumpuh. Ekor antrean kendaraan logistik mengular hingga 23 kilometer. Tak hanya truk, bus eksekutif dan kendaraan pribadi pun ikut terperangkap.
Seperti dirasakan Hendrik Salamun, penumpang bus sleeper eksekutif rute Denpasar–Surabaya. Ia mengaku sudah lebih dari 30 jam terjebak. Ironisnya, ia masih tertahan di sekitar jembatan timbang Kalipuro, Banyuwangi.
“Berangkat dari Denpasar jam 4 subuh. Masuk kapal di Gilimanuk nunggu 9 jam lebih. Sekarang masih belum sampai pelabuhan,” ujar Hendrik dengan suara letih, Kamis (17/7).
Hendrik memilih naik bus eksekutif demi efisiensi waktu, namun justru batal bertemu klien.
“Enggak ada pemberitahuan soal kondisi kapal. Biasanya cepat, tapi ini malah gagal meeting,” tambahnya.
Sopir Truk: Rugi Waktu, Rugi Uang
Cerita pilu juga datang dari Tri Hari Prasetyo (62), sopir truk asal Pesanggaran, Banyuwangi. Ia membawa muatan sabun dari Surabaya menuju Bali. Namun, sejak Rabu malam terjebak di antrean tanpa kepastian.
“Biasanya dari Bangsring ke pelabuhan cuma 20 menit. Ini saya dari jam 10 malam sampai sore masih di sini,” keluhnya.
Tri menyebut ini adalah kemacetan terparah selama 10 tahun mengangkut barang ke Bali.
“Kerjanya borongan. Kalau terlambat gini, ya tekor. Untung bos di Bali ngerti,” ucapnya lirih.
Penyebab: Kapal Hilang, Sopir Panik
Masalah bermula dari larangan berlayar terhadap 15 kapal eks Landing Craft Tank (LCT) oleh Kementerian Perhubungan.
Setelah insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, seluruh kapal eks LCT diperiksa. Hanya enam kapal yang kini diizinkan berlayar, itu pun dengan kapasitas maksimal 75 persen.
“Biasanya satu kapal bisa muat delapan truk besar. Sekarang cuma lima,” jelas Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra.
Akibatnya, kendaraan logistik menumpuk di jalur arteri, hingga terjadi kemacetan berlapis dari Alasrejo di Wongsorejo sampai SPBU Ketapang.
Sempat Ricuh, Sopir Blokade Akses Masuk
Kondisi ini sempat memicu protes para sopir. Beberapa truk bahkan memblokade akses masuk Dermaga LCM karena frustrasi menunggu.
Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, menilai pemerintah terlalu terburu-buru tanpa solusi siap pakai.
“Kami paham keselamatan penting. Tapi tolong disiapkan dulu penggantinya. Ini logistik berhenti, ekonomi jalan di tempat,” tegasnya.
Polisi Turun Tangan, Bagikan Nasi Bungkus
Menghadapi situasi darurat ini, Polresta Banyuwangi menerjunkan satu kompi pasukan ke sejumlah titik kemacetan.
“Kami tempatkan personel di titik rawan. Banyak sopir nekat ambil jalur lawan karena panik,” ungkap Kombes Rama.
Sebagai bentuk empati, polisi juga membagikan makanan dan minuman kepada sopir dan penumpang yang tertahan berjam-jam.
“Ini bentuk kemanusiaan. Banyak dari mereka belum makan sejak pagi,” imbuhnya.
Selain mengatur lalu lintas, polisi juga berkoordinasi dengan KSOP dan ASDP untuk mempercepat reaktivasi kapal yang telah dinyatakan layak.
Salah satunya adalah kapal Portlink berkapasitas 60 truk yang mulai dioperasikan. Rama berharap dengan tambahan ini, antrean mulai terurai dalam waktu dekat.
Tunggu di Tengah Jalan, Tanpa Kepastian
Hingga Kamis sore, pemandangan jalan raya berubah seperti lapangan parkir raksasa. Truk, bus, dan mobil pribadi berjejer tak bergerak.
Sopir duduk di pinggir jalan, sebagian tidur di atas kap kendaraan. Udara panas dan debu kian memperburuk suasana.
“Kalau cuma sekali dua jam masih bisa sabar. Ini sudah lebih dari sehari,” ujar salah satu sopir dari balik kemudi truknya.
Situasi yang terjadi di Pelabuhan Ketapang ini jadi alarm keras bagi semua pihak.
Ketika jalur logistik tersumbat, maka bukan hanya pengemudi yang merugi, tapi juga rantai distribusi dan ekonomi lintas pulau yang terancam stagnan. (*)
Editor : Ali Sodiqin