RADARBANYUWANGI.ID - Rencana pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali masih berjalan alot.
Meski Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) merekomendasikan pengangkatan bangkai kapal, namun keputusannya diserahkan kepada owner KMP Tunu Pratama Jaya dan pihak asuransi.
Direktur KPLP Hendri Ginting menyatakan, titik keberadaan kapal sudah ditemukan. Saat ini pihaknya sedang merumuskan rencana pengangkatan bangkai kapal sesuai ketentuan undang-undang.
Kemenhub masih berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pihak asuransi kapal dan pemilik kapal, untuk merencanakan proses pengangkatan.
Informasi terakhir, keberadaan KMP Tunu Pratama yang tenggelam masih berada di lokasi yang sama, yaitu 3,3 kilometer dari lokasi tenggelamnya kapal produksi tahun 2010 tersebut.
"Kemenhub masih berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pihak asuransi kapal dan pemilik kapal, untuk merencanakan proses pengangkatan,’’ kata Hendri Ginting.
Proses penandaan lokasi bangkai kapal sedang berlangsung dengan pemasangan pelampung (buoy) untuk mencegah pergeseran akibat arus laut. KPLP juga menandai agar lokasi tersebut tak digunakan untuk lego jangkar oleh kapal lain.
Hendri Ginting mengakui upaya pengangkatan bangkai kapal menghadapi tantangan besar. Arus di lokasi sangat kuat, sehingga kemampuan penyelam harus diperhitungkan.
Penyelaman efektif hanya sekitar tiga jam, yaitu saat dini hari. "Untuk mencari saja sulit, apalagi mengangkat kapal," kata Hendri.
Selain itu, biaya untuk wreck removal atau pengangkatan bangkai kapal membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hendri memperkirakan biayanya diprediksi mencapai Rp 60 miliar.
”Penentuan teknis dan pelaksanaan pengangkatan kapal akan sangat bergantung pada kesepakatan antara pemilik kapal dan pihak asuransi. Mengingat kompleksitas dan biaya yang dibutuhkan dalam operasi salvage dengan tingkat kesulitan tinggi,’’ tegasnya.
Kepala kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit mengatakan, pada hari ketiga SAR pasca pemindahan kewenangan ke daerah, pihaknyan menggerakan satu SRU laut bergerak melakukan pencarian.
Didukung KN SAR Permadi, RIB 01 Gilimanuk, dan RIB 03 Banyuwangi, SRU laut menyisir perairan Tanjung Wangi hingga ke Blimbingsari.
"Kondisi cuaca di perairan Selat Bali pada hari ke-16 pencarian dominan berawan tebal. Angin bertiup kencang dengan kecepatan 6 – 25 knots. Ketinggian gelombang maksimal berkisar antara 0,5 – 2,5 meter serta kecepatan arus permukaan 2,5 m/s,’’ ungkapnya.
SRU darat dari Posko SAR Gabungan Banyuwangi melakukan penyisiran di sepanjang Pantai Blimbingsari hingga Pantai Muncar.
Selanjutnya SRU darat dari Posko SAR Gilimanuk melakukan penyisiran di Pantai Candi Kusuma Jembrana, Pelabuhan Gilimanuk, Teluk Gilimanuk, Pantai Pebuahan, dan Pantai Baluk Rening.
"Selain melakukan pengamatan visual, SRU darat juga berkoordinasi dengan para nelayan setempat. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pelaporan jika ditemukan jenazah korban,’’ tegas Nanang.
Hingga kemarin, total korban yang ditemukan tim SAR gabungan sebanyak 49 orang. Dari jumlah tersebut, 30 orang ditemukan selamat dan 19 orang meninggal dunia.
Empat jenazah sampai sekarang masih menunggu proses identifikasi oleh tim DVI di RSUD Blambangan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin