Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BANYUWANGI TERISOLASI! Jalur Gumitir Diblokir, Pantura Bisa Macet? Distribusi BBM dan Logistik Terancam Lumpuh

Ali Sodiqin • Jumat, 18 Juli 2025 | 14:56 WIB
Polisi melakukan patrol di Jalur Gumitir Jember. Per 24 Juli 2025, jalan penghubung Banyuwangi-Jember ini ditutup total.
Polisi melakukan patrol di Jalur Gumitir Jember. Per 24 Juli 2025, jalan penghubung Banyuwangi-Jember ini ditutup total.

RADARBANYUWANGI.ID - Akses utama penghubung Jember–Banyuwangi via Pegunungan Gumitir bakal ditutup total mulai 24 Juli hingga 24 September 2025.

Penutupan selama dua bulan itu dilakukan demi proyek perbaikan besar-besaran di titik-titik rawan longsor kawasan tersebut.

Kabar ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Jalur nasional yang selama ini menjadi urat nadi transportasi darat di wilayah timur Jawa Timur bakal lumpuh total.

Kendaraan roda empat termasuk angkutan logistik dan pengangkut bahan bakar (BBM) dilarang melintasi kawasan tersebut.

Proyek perbaikan akan mencakup penanganan longsor menggunakan metode bored pile di 55 titik sepanjang 115 meter, ditambah pembenahan geometri jalan.

 Aktivitas alat berat yang membutuhkan ruang besar menjadi alasan utama jalur harus ditutup total.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut bahwa pihaknya masih berupaya mencarikan solusi agar proyek tetap berjalan tanpa harus memutus total akses lalu lintas.

“Pengerjaan lebih lama tidak masalah, asalkan jalan tetap bisa dilalui. Ini sedang kami komunikasikan dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional,” ujarnya, Rabu (2/7).

Jalur Alternatif Bikin Biaya Melonjak

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara tegas menyuarakan keberatan atas rencana penutupan total.

Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, Komang Sudira Atmaja, menilai dampak yang ditimbulkan terlalu besar bagi ekonomi masyarakat.

“Penutupan total akan membuat biaya logistik naik, karena kendaraan harus menempuh rute lebih jauh. Itu bisa memicu inflasi, bukan hanya di Banyuwangi, tapi juga Jember dan Bali,” kata Komang, Jumat (27/6) lalu.

Rute alternatif yang disiapkan melalui Bondowoso–Situbondo dinilai kurang ideal, terutama bagi kendaraan berat seperti truk tangki BBM.

Pasalnya, di Bondowoso terdapat jembatan dengan batas beban maksimal 15 ton, padahal bobot kendaraan tersebut jauh di atas batas itu.

Akibatnya, distribusi bahan bakar dari Jember harus dialihkan melalui Probolinggo, rute yang lebih jauh dan memakan waktu.

“Ini bukan hanya soal logistik. Pariwisata pun bisa kena dampak karena wisatawan akan kesulitan menjangkau Banyuwangi,” ujarnya.

Pantura Situbondo Jadi Jalur Vital

Dengan ditutupnya Jalur Gumitir, jalan pantura Situbondo menjadi satu-satunya rute darat paling memungkinkan untuk menuju Banyuwangi dan Pulau Bali.

Antisipasi pun langsung dilakukan jajaran Polres Situbondo. Terutama jika terjadi kemacetan panjang di hutan Baluran hingga Pelabuhan Ketapang.

Kemacetan ini sudah terjadi sejak Rabu (15/7) akibat kebijakan pengurangan kapal yang berlayar di Selat Bali.

Hingga Jumat (18/7) kemacetan tak bisa dihindari. Bahkan ekor kendaraan sudah sampai di perbatasan Banyuwangi-Situbondo.

Kasat Lantas Polres Situbondo AKP Nanang Hendra Irawan menyampaikan, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan Polda Jatim untuk persiapan pengalihan arus.

“Kami menambah pos pengamanan di Banyuglugur untuk antisipasi kemacetan dan kecelakaan,” ujar AKP Nanang, Kamis (17/7).

Pengawasan juga ditingkatkan di sejumlah titik rawan, seperti Simpang Jalan PB Sudirman dan beberapa perempatan utama di jalur pantura Situbondo.

Bahkan, jika terjadi kemacetan parah, polisi akan menerapkan sistem buka-tutup dan mengurangi durasi lampu merah.

“Durasi lampu merah yang saat ini mencapai 90 detik akan kami kaji ulang dan kurangi kalau memang memicu kemacetan akibat lonjakan kendaraan,” tegasnya.

Gap Pengambilan Keputusan

Meski proyek ini penting untuk keselamatan pengguna jalan, sejumlah pihak meminta pemerintah tidak gegabah mengambil keputusan tanpa memperhitungkan dampak lanjutan.

“Kalau tidak hati-hati, niat baik memperbaiki jalan justru bisa menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak kecil,” kata Komang.

Usulan pun muncul agar proyek tetap berjalan dengan sistem buka-tutup, bukan penutupan total. Dengan begitu, aktivitas kendaraan tetap bisa berlangsung meski dengan pembatasan.

Kini semua mata tertuju pada pemerintah pusat dan BBPJN. Apakah proyek tetap berjalan sesuai rencana, atau akan ada skema kompromi agar denyut ekonomi di wilayah timur Jawa Timur tidak ikut terhenti? Waktu yang akan menjawab. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#distribusi logistik #Jalur Gumitir ditutup #bondowoso #jalan ditutup #Distribusi BBM #pantura macet #jember-banyuwangi #banyuwangi terisolasi #jalur alternatif