RADARBANYUWANGI.ID – Kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, kembali terjadi.
Antrean kendaraan mengular hingga puluhan kilometer, membuat arus lalu lintas lumpuh total.
Yang terbaru, kemacetan terpantau sejak Selasa malam (16/7) hingga Kamis pagi (17/7), imbas dari 15 kapal yang tidak beroperasi.
Kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya sudah lima kali Pelabuhan Ketapang mengalami kemacetan ekstrem.
Penyebabnya beragam, mulai dari faktor cuaca, libur panjang, hingga gangguan teknis di pelabuhan.
Awal Mula Rekor Macet
Kemacetan parah pertama tercatat pada 3 Juli 2023. Saat itu, momentum libur sekolah berbarengan dengan libur Idul Adha.
Kondisi diperparah dengan perbaikan dermaga ponton, yang menyebabkan antrean kendaraan menumpuk di jalan arteri menuju pelabuhan.
Selanjutnya, pada 23 Desember 2023, antrean kembali mengular seiring dengan lonjakan penumpang menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Ribuan kendaraan pribadi, travel, dan logistik menyesaki ruas jalan Ketapang–Gilimanuk. Situasi ini sempat melumpuhkan akses kendaraan dari arah kota Banyuwangi.
Cuaca Buruk Jadi Faktor Pemicu
Kemacetan tidak hanya disebabkan oleh lonjakan penumpang. Pada 23 Juni 2024, antrean panjang kembali terjadi.
Saat itu, arus balik Idul Adha dibarengi dengan cuaca buruk di perairan Selat Bali. Sejumlah kapal tak bisa berlayar, menyebabkan penumpukan kendaraan di area pelabuhan dan kantung parkir.
Hal serupa juga terjadi pada 25 Juni 2025. Selama dua jam, Pelabuhan Ketapang ditutup sementara akibat gelombang tinggi.
Penutupan ini bertepatan dengan libur sekolah, sehingga volume kendaraan meningkat drastis. Akibatnya, antrean kendaraan dari arah utara menumpuk hingga ke luar kawasan Pelabuhan ASDP.
Puncaknya, 16 Juli 2025
Kemacetan teranyar terjadi pada 16 Juli 2025. Sebanyak 15 kapal yang biasanya melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk tak beroperasi menyusul hasil inspeksi teknis dari regulator pelayaran.
Akibatnya, antrean kendaraan mengular hingga 30 kilometer ke arah utara, bahkan menyentuh kawasan hutan Baluran.
Truk logistik dan kendaraan pribadi terjebak belasan jam di tengah antrean. Banyak pengemudi mengeluh rugi jutaan rupiah karena molornya pengiriman barang dan tingginya biaya operasional di tengah kemacetan.
Langkah Darurat
Pihak ASDP, KSOP Tanjungwangi, serta Polresta Banyuwangi terus berupaya melakukan penanganan darurat.
Beberapa kapal eks LCT yang sebelumnya tidak aktif diizinkan kembali berlayar, dengan catatan telah melewati pemeriksaan kelayakan.
Petugas kepolisian juga diturunkan untuk mengatur arus lalu lintas, terutama di titik-titik rawan pelanggaran jalur seperti kawasan Watudodol dan pintu masuk lingkar Ketapang.
Namun, kondisi masih belum pulih sepenuhnya. Imbauan untuk menunda perjalanan ke Bali bagi yang tidak berkepentingan mendesak terus digaungkan. (*)
Catatan Redaksi:
Kemacetan ekstrem di Pelabuhan Ketapang tampaknya sudah menjadi siklus tahunan. Evaluasi menyeluruh terhadap manajemen pelabuhan, jumlah kapal aktif, serta prediksi lonjakan arus penumpang dinilai menjadi kunci agar peristiwa serupa tidak terus terulang setiap momentum libur panjang.