BANYUWANGI – Akses keluar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, lumpuh total, Rabu (16/7).
Ratusan sopir truk tronton nekat memarkir kendaraan mereka berjajar rapat di pintu keluar dermaga Landing Craft Machine (LCM).
Aksi blokade ini membuat operasional pelabuhan berhenti total selama 1,5 jam sejak pukul 11.00 WIB.
Kemacetan pun tak terelakkan. Antrean kendaraan mengular hingga lebih dari 7 kilometer, bahkan mencapai kawasan wisata Grand Watu Dodol (GWD) di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.
Pemicu aksi protes tersebut adalah terbatasnya jumlah kapal yang beroperasi di dermaga LCM.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Muhammad Masyhud, mengatakan bahwa berdasarkan laporan KSOP Tanjung Wangi, pemblokiran dilakukan sebagai bentuk kekecewaan sopir atas minimnya armada kapal.
"Dari 54 kapal yang diperiksa, 15 kapal belum memenuhi syarat berlayar. Ini berdampak langsung pada antrean panjang yang akhirnya memicu aksi protes," ujar Masyhud dalam siaran persnya, Rabu (16/7) sore.
Kemacetan Mengular, Pengemudi Tersiksa
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, antrean kendaraan sudah terjadi sejak pukul 09.00 WIB.
Kendaraan logistik, mobil pribadi, hingga bus pariwisata menumpuk di jalur arteri pelabuhan. Jalanan hanya bisa dilalui secara perlahan.
“Saya antre lima jam dari Bangsring. Baru bisa keluar Ketapang jam 7 malam setelah diarahkan lewat jalan lingkar,” keluh Ulum, warga Lamongan yang membawa muatan bunga.
Situasi diperparah karena hanya satu kapal yang beroperasi di dermaga LCM saat pagi hari.
Petugas Satlantas mencoba mengurai kepadatan dengan menyiapkan kantung parkir dan mengalihkan kendaraan ke jalan alternatif. Namun, antrean tetap panjang.
45 Kapal Sudah Laik Laut, Penumpukan Diharapkan Mereda
Hingga sore, Kemenhub mencatat ada tambahan enam kapal yang dinyatakan laik laut, sehingga total ada 45 kapal yang bisa melayani penyeberangan Selat Bali.
“Kami terus pantau perkembangan. Koordinasi dengan ASDP, BPTD, dan pihak keamanan terus dilakukan untuk mempercepat normalisasi arus kendaraan,” jelas Masyhud.
Empat kapal eks LCT—KMP Agung Samudra IX, KMP Liputan XII, KMP Samudra Utama, dan KMP Jambo VI—telah diberi dispensasi terbatas untuk beroperasi.
Namun, muatan dibatasi maksimal 75 persen dan hanya mengangkut kendaraan logistik, tanpa penumpang.
Polisi Batasi Kendaraan di Perbatasan
Untuk mengurangi tekanan volume kendaraan, aparat Polsek Wongsorejo disiagakan di perbatasan Banyuwangi–Situbondo.
Beberapa kendaraan pribadi diminta putar balik, sementara kendaraan logistik diminta bersabar dan diarahkan ke buffer zone.
"Kami batasi kendaraan agar antrean tidak makin panjang. Sopir juga diminta tidak menerobos jalur macet," tegas Kapolsek Wongsorejo AKP Eko Darmawan.
Sebagian kendaraan memilih istirahat di bahu jalan, menunggu antrean terurai. Sementara yang tak memiliki keperluan mendesak ke Bali, memilih mundur dan mencari jalur alternatif melalui Jember atau Bondowoso. (*)
Editor : Ali Sodiqin