RADARBANYUWANGI.ID – Arus penyeberangan di lintasan Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk lumpuh total, Rabu (16/7).
Ribuan kendaraan dari berbagai golongan menumpuk di area parkir dan akses jalan menuju pelabuhan.
Kemacetan parah dipicu aksi demonstrasi sopir truk tronton yang memblokade jalur utama.
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan mengular hingga lebih dari 10 kilometer, baik dari arah Situbondo ke Banyuwangi maupun sebaliknya.
Truk logistik, bus antarkota, travel, hingga mobil pribadi terpaksa berhenti total. Jalur nasional Jawa–Bali lumpuh.
“Akses pelabuhan tertutup total sejak dini hari. Sopir truk demo, katanya gara-gara calo di dalam pelabuhan,” ujar Dwika (35), pengemudi mobil pribadi asal Banyuwangi.
Menurut Dwika, dirinya sudah menunggu lebih dari lima jam namun belum juga bisa masuk pelabuhan. “Kalau seperti ini, semua rugi,” keluhnya.
Calo Disebut Biang Masalah
Salah satu sopir, Anang Susanto (52), menyebut bahwa aksi blokade dilakukan sebagai bentuk protes terhadap praktik percaloan di area pelabuhan.
Para calo diduga mengatur sistem “kawalan” kendaraan dengan tarif tertentu.
“Kami bukan demo cari ribut. Kami cuma minta dinas terkait turun tangan. Calo-calo itu meresahkan, padahal ada petugas dan satpam pelabuhan,” ujar Anang.
Situasi makin panas setelah sejumlah video cekcok antara sopir dan petugas viral di media sosial.
Beberapa sopir bahkan meluapkan kemarahan karena keterlambatan mempengaruhi jadwal bongkar muat barang.
15 Kapal Dilarang Berlayar
Kemacetan semakin parah karena adanya penghentian sementara operasional 15 kapal jenis landing craft tank (LCT) yang biasa melayani penyeberangan di Selat Bali.
Larangan ini dikeluarkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungwangi, Banyuwangi, menyusul tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli lalu.
“Hasil pemeriksaan menyatakan kapal-kapal tersebut tidak laik laut. Sistem radio banyak yang tidak berfungsi, ada pelanggaran ISM Code,” tegas Kepala KSOP Capt. Purnaga.
Surat penghentian pelayaran bernomor AL.202/125/KSOP.TG.WI/2025 itu berlaku sejak 14 Juli.
KSOP meminta seluruh operator kapal untuk segera memperbaiki kapal sesuai rekomendasi tim keselamatan.
Distribusi dan Mobilitas Terganggu
Penundaan pelayaran berdampak pada seluruh rantai logistik dan mobilitas antar pulau. Banyak sopir dan penumpang terpaksa tidur di dalam kendaraan, menunggu tanpa kepastian.
“Sudah dua hari di sini. Barang tidak bisa dikirim. Jadwal berantakan,” kata salah satu sopir truk asal Surabaya.
Pihak pelabuhan dan instansi terkait hingga pagi ini masih berupaya mengurai kemacetan dan membuka akses.
Pengguna jasa penyeberangan diminta memantau informasi resmi agar dapat menyesuaikan waktu keberangkatan.
Jalur Ketapang–Gilimanuk merupakan jalur laut tersibuk kedua di Indonesia setelah Merak–Bakauheni.
Pemerintah diminta turun tangan agar situasi segera terkendali dan distribusi kembali normal. (*)
Editor : Ali Sodiqin