RADARBANYUWANGI.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember terus memperkuat upaya pengendalian inflasi pangan melalui pendekatan kreatif dan berbasis komunitas. Sebagai bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), KPwBI Jember menyelenggarakan berbagai kegiatan perlombaan dan Capacity Building UMKM dalam rangkaian Sekarkijang Creative Festival (SCF) X Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025. Fokus lomba yang digelar Minggu (13/7) di Taman Blambangan, Banyuwangi, tersebut adalah pemanfaatan cabai kering sebagai inovasi pengolahan pangan.
Kegiatan diawali dengan lomba memasak yang diikuti oleh 7 finalis dari Sekarkijang. Para peserta telah melalui proses seleksi sebelumnya untuk menampilkan kreativitas dan inovasi resep menggunakan cabai kering sebagai bahan utama. Setiap finalis menyajikan menu andalan yang memadukan cita rasa otentik dengan presentasi yang menarik. Kompetisi ini diharapkan tidak hanya melahirkan inspirasi baru, tetapi juga mengedukasi masyarakat bahwa penggunaan cabai kering mampu menghasilkan hidangan yang sama lezatnya dengan cabai segar sekaligus lebih stabil dari sisi pasokan dan harga.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan talk show Inspiratif yang menghadirkan narasumber dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi membahas aspek kehalalan produk pangan. Selain itu, dihadirkan pula narasumber dari Dinas Kesehatan Banyuwangi yang mengupas higienitas dan keamanan pengolahan bahan makanan. Talk show ini menjadi ruang berbagi ilmu agar UMKM mampu menghasilkan produk yang sehat, aman, dan sesuai ketentuan syariat.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Chef Syahril Lazuardi, Top 4 Masterchef Indonesia Season 10, memandu demo memasak kari ayam dengan menggunakan cabai kering yang menampilkan cara pemanfaatan cabai kering secara praktis tanpa mengurangi cita rasa masakan. Demo ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi produk hortikultura dapat menjadi solusi inovatif pengendalian inflasi pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Gunawan menjelaskan, cabai segar menjadi top 5 penyumbang inflasi tertinggi di wilayah Jember dan Banyuwangi. “Melalui lomba memasak, talk show, dan demo masak ini, kami ingin meningkatkan awareness masyarakat tentang inovasi pengolahan pangan dan dapat menjadikan cabai kering sebagai alternatif yang sangat potensial untuk mengurangi ketergantungan terhadap cabai. Seperti diketahui, harga cabai segar sangat fluktuatif dan kerap menjadi pemicu inflasi. Cabai kering memiliki keunggulan dari sisi daya simpan, efisiensi distribusi, dan kestabilan harga, sehingga dapat menjadi solusi jangka menengah dalam pengendalian inflasi pangan,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan edukasi berkelanjutan, Bank Indonesia Jember berharap inovasi penggunaan cabai kering dapat menjadi solusi praktis pengendalian inflasi pangan sekaligus peluang baru bagi UMKM kuliner di wilayah Sekarkijang. (sgt)
Editor : Sigit Hariyadi