RADARBANYUWANGI.ID - Insiden kebakaran yang terjadi di RS Hermina Jatinegara pada Rabu (2/7) menjadi pengingat keras bahwa fasilitas layanan kesehatan di Indonesia memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bahaya kebakaran.
Berdasarkan laporan awal, kebakaran ini diduga dipicu oleh ledakan panel listrik di ruang farmasi lantai 3.
Kejadian ini membuka kembali diskusi tentang pentingnya sistem proteksi kebakaran di rumah sakit dan manajemen risikonya.
Rumah Sakit: Fasilitas yang Rentan Terhadap Kebakaran
Rumah sakit merupakan tempat yang kompleks, dipenuhi berbagai potensi bahaya kebakaran, seperti gas medis (terutama oksigen) yang sangat mudah terbakar, obat-obatan kimia dan alkohol, peralatan elektronik bertegangan tinggi, serta instalasi listrik yang kompleks dan padat.
Selain itu, banyak pasien di rumah sakit memiliki keterbatasan mobilitas, sehingga membuat proses evakuasi dalam situasi darurat menjadi sangat sulit.
Sistem Proteksi Aktif dan Pasif: Pilar Pencegahan Kebakaran
Pencegahan dan mitigasi risiko kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan.
Diperlukan sistem proteksi kebakaran aktif seperti alarm kebakaran otomatis, sprinkler, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), dan sistem hidran internal.
Selain itu, proteksi pasif seperti desain bangunan tahan api, jalur evakuasi yang jelas, dan sistem ventilasi darurat juga sangat penting.
Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa banyak rumah sakit di Indonesia tidak melakukan perawatan berkala terhadap perangkat-perangkat ini, yang berakibat fatal saat terjadi insiden nyata seperti di RS Hermina Jatinegara.
Faktor Penyebab Kebakaran di RS Hermina Jatinegara
Ledakan panel listrik yang diduga sebagai penyebab utama kebakaran adalah ancaman tersembunyi yang sering diabaikan.
Panel listrik yang terlalu padat, penggunaan alat berdaya tinggi tanpa perhitungan beban, serta kurangnya inspeksi rutin menjadi kombinasi berbahaya.
Di banyak kasus serupa, kelalaian manusia seperti lupa mematikan alat atau salah penggunaan alat listrik juga memperburuk situasi.
Risiko dan Dampak Nyata Kebakaran di Rumah Sakit
Dampak kebakaran rumah sakit tidak hanya bersifat fisik. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain kehilangan nyawa dan cedera pasien serta staf, gangguan total layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa, kerugian finansial besar akibat rusaknya peralatan dan bangunan, hingga kepanikan massal yang bisa memicu trauma.
RS Hermina Jatinegara merupakan contoh konkret betapa pentingnya sistem manajemen risiko kebakaran yang menyeluruh dan bukan hanya formalitas administrasi.
Rekomendasi Strategis untuk Mengurangi Risiko Kebakaran
Untuk mencegah kejadian serupa, rumah sakit perlu mengambil langkah-langkah strategis, seperti inspeksi dan perawatan berkala terhadap sistem proteksi aktif (alarm, sprinkler, APAR), pelatihan darurat rutin bagi seluruh staf rumah sakit, dab audit kelistrikan menyeluruh untuk mencegah korsleting atau ledakan.
Simulasi evakuasi tahunan sebagai bentuk kesiapsiagaan juga perlu dilakukan, serta penerapan manajemen risiko terintegrasi yang mencakup identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengurangan kerentanan.
Kasus kebakaran RS Hermina Jatinegara menjadi pelajaran penting bahwa risiko kebakaran di rumah sakit bukan sekadar potensi, tapi realitas yang harus dihadapi dengan sistem pencegahan dan penanggulangan yang matang.
Rumah sakit, sebagai tempat penyelamatan nyawa, tidak boleh lengah dalam urusan keselamatan internalnya sendiri. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.
Editor : Lugas Rumpakaadi