RADARBANYUWANGI.ID – Satu lagi megaproyek ambisius Indonesia siap lepas landas. Bandara Internasional Bali Utara, yang akan dibangun menjulur 1,5 kilometer ke tengah laut, segera memasuki tahap konstruksi.
Nilai investasinya bukan main-main: Rp50 triliun. Proyek ini bukan hanya menghadirkan bandara baru, tapi juga menjadi amunisi utama mendongkrak program strategis Kementerian Pariwisata: kawasan pariwisata 3B (Banyuwangi–Bali Barat–Bali Utara).
Bandara megah ini dirancang di kawasan Buleleng Timur, dengan konsep aerotropolis—kota masa depan yang tumbuh dari bandara.
Total luas kawasan yang dikembangkan mencapai 900 hektare, lengkap dengan hotel, pelabuhan logistik, pusat bisnis, hingga permukiman modern. Tak heran, proyek ini langsung disebut sebagai “ikon ekonomi baru dari laut Bali Utara”.
Tanpa APBN, Didanai Penuh Investor China
Proyek ini digagas PT BIBU Panji Sakti, menggandeng investor besar asal Tiongkok, ChangYe Construction Group, lewat skema turnkey project.
Artinya, pembangunan dituntaskan lebih dulu, baru dana investasi dicairkan. Negara tak keluar sepeser pun—baik APBN maupun APBD.
“Ini murni investasi swasta. Kita sudah teken MoU di Beijing, November 2024 lalu. Sekarang tinggal eksekusi. Groundbreaking dalam hitungan bulan,” ujar Direktur Utama PT BIBU, Erwanto Sad Adiatmoko, Kamis (26/6).
Bandara terapung ini juga telah masuk Perpres Nomor 12 Tahun 2025 dan ditetapkan sebagai proyek strategis nasional dalam RPJMN 2025–2029. Presiden Prabowo disebut sudah memberi restu penuh.
Menyokong Konektivitas Program 3B
Keberadaan Bandara Bali Utara akan langsung menopang program unggulan Kementerian Pariwisata, yaitu Pengembangan Destinasi 3B—kawasan Banyuwangi, Bali Barat, dan Bali Utara yang dipetakan sebagai koridor wisata alternatif untuk mengurangi beban Bali Selatan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, sebelumnya menegaskan pentingnya konektivitas antarwilayah 3B.
“Jika bandara ini terealisasi, maka akses ke Bali Barat dari Banyuwangi bisa lebih cepat. Arus wisata bisa menyebar lebih merata,” ujarnya dalam wawancara terdahulu.
Bali Utara selama ini tertinggal dalam hal infrastruktur dan kunjungan wisatawan. Dengan hadirnya bandara ini, akses dari luar negeri langsung ke kawasan 3B akan terbuka lebar. Ini sekaligus menjadi game changer dalam pemerataan ekonomi Pulau Dewata.
Tantangan Tetap Ada, Harapan Kian Besar
Meski demikian, bukan berarti proyek ini tanpa tantangan. Penyesuaian RTRW Buleleng, analisis dampak lingkungan laut, hingga integrasi dengan jalur tol Bali Utara–Barat masih perlu dimatangkan.
Namun Erwanto optimistis. “Ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ini pondasi ekonomi baru. Kalau Jakarta punya IKN, maka Bali Utara punya bandara laut ini,” tegasnya.
Sementara itu, dukungan politik juga terus mengalir. Menteri PMK, Muhaimin Iskandar, bahkan menjanjikan akan “mendatangkan artis internasional paling mahal” untuk meramaikan peresmian bandara nantinya.
Bali Utara Siap Bersinar
Dengan desain futuristik, konsep terapung, dan pendanaan swasta jumbo, Bandara Bali Utara bukan hanya menjawab tantangan pariwisata pasca-COVID, tapi juga membuka babak baru pertumbuhan kawasan timur Indonesia.
Jika terealisasi, akses dari Banyuwangi ke Bali Barat dan Bali Utara akan menjadi seamless, memperkuat jaringan 3B sebagai poros pariwisata baru nasional. Bali tak lagi hanya tentang Kuta dan Nusa Dua. Bali kini siap bersinar dari utara. (*)
Editor : Ali Sodiqin