RADARBANYUWANGI.ID – Momen haru dan penuh makna terjadi saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali bertemu dengan Darkiman.
Darkiman adalah pria yang sempat viral karena menyiramnya dengan air dalam acara Abdi Nagri Nganjang Ka Warga di Desa Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.
Alih-alih marah, Dedi justru menyambut hangat Darkiman dan mengajaknya berbincang secara langsung.
Dalam pertemuan tersebut, terungkap sisi lain dari sosok pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu.
Darkiman, yang datang ditemani sang istri, mengungkapkan bahwa tindakannya saat itu semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang tergencet karena kerumunan massa.
“Saya nyemprotin air karena minta tolong, ada anak kecil tergencet,” ujar Darkiman.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Gubernur Jabar atas kejadian tersebut.
Tak hanya membahas insiden viral, perbincangan keduanya juga menyentuh hal yang lebih dalam: soal kemanusiaan.
Dedi menanyakan penggunaan uang Rp10 juta yang sebelumnya diberikan kepadanya saat pertemuan di Lembur Pakuan, Subang.
"Duit yang kemaren itu, Pak, saya bagi-bagi. Saya pecah buat anak yatim, buat orang jompo, buat istri, buat anak, dan orang tua di kampung," ucap Darkiman dengan polos.
Jawaban itu membuat Dedi Mulyadi tertegun. Ia tak menyangka bahwa pria yang sempat ‘menyiramnya’ justru memiliki hati seluas samudra.
“Bapak ternyata tukang amal, bagus,” ujar Dedi sambil tersenyum.
Sang istri yang turut hadir juga menguatkan kesaksian tersebut. Ia menyebut Darkiman sebagai sosok suami yang dermawan dan peduli kepada sesama, bahkan kepada orang yang tak dikenalnya.
“Ada orang gila aja dia kasih. Kalau punya rezeki pasti berbagi,” kata istri Darkiman, wanita asal Cianjur yang terlihat bangga dengan sang suami.
Bahkan, ia mengenang masa awal tertarik pada Darkiman karena sifat ringan tangannya kepada orang-orang susah.
Meski demikian, Dedi Mulyadi tetap memberi wejangan penting soal pengelolaan keuangan.
Ia mengingatkan agar Darkiman tidak melulu terburu-buru membagi rezeki tanpa memikirkan kebutuhan keluarga.
"Hidup itu harus sistemik, jangan berantakan. Kalau lagi ada uang manfaatkan dengan baik. Jangan terlalu banyak rencana, sesuaikan dengan kemampuan,” pesan Dedi.
Tak ada ketegangan, tak ada amarah. Yang ada justru pertemuan sarat makna antara pemimpin dan rakyat kecil, yang mengingatkan bahwa kebaikan bisa datang dari siapa saja.
Termasuk dari seorang kuli bangunan yang pernah menyiram air di tengah kerumunan—demi menyelamatkan anak kecil. (*)
Editor : Ali Sodiqin