Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kalender Jawa Ternyata Bukan Asli Jawa? Ini Fakta Mengejutkan dari Era Sultan Agung

Ali Sodiqin • Senin, 23 Juni 2025 | 18:39 WIB
Kalender Sultan Agungan yang Dipakai Dalam Lingkungan Keraton Yogyakarta (kiri). Sultan Agung Anyakrakusuma (kanan).
Kalender Sultan Agungan yang Dipakai Dalam Lingkungan Keraton Yogyakarta (kiri). Sultan Agung Anyakrakusuma (kanan).

RADARBANYUWANGI.ID - Di balik sistem penanggalan yang digunakan masyarakat Jawa, tersimpan kisah akulturasi budaya dan visi besar seorang raja.

Dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah pada Rabu (2/8/2023), Ghoffar Ismail memaparkan bahwa Kalender Jawa adalah hasil penyatuan dua peradaban: penanggalan Saka dari India dan Kalender Hijriah dari tradisi Islam.

“Kalender Jawa adalah simbol kebijaksanaan dan penyatuan nilai-nilai tradisional dengan ajaran Islam,” ungkap Ghoffar, seperti dilansir dari laman Muhammadiyah.or.id

Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram Islam.

Pada Jumat Legi, saat tahun baru Saka 1555 yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi, Sultan Agung secara resmi mengganti sistem penanggalan Mataram dari berbasis matahari ke sistem lunar Hijriah.

Tujuannya jelas: agar hari-hari besar Islam dapat dirayakan bersamaan dengan perayaan adat keraton.

“Sultan Agung ingin mempertemukan perayaan spiritual dan budaya dalam satu kalender,” ujar Ghoffar.

Kini, Kalender Jawa telah mencapai tahun 1957 Jawa. Meskipun mengacu pada sistem bulan, nama-nama bulan dalam Kalender Jawa tetap mempertahankan ciri khasnya seperti Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, hingga Besar.

Nama-nama tersebut merupakan adaptasi dari kalender Hijriah yang dikombinasikan dengan nuansa lokal.

Tidak hanya itu, kalender ini juga memiliki dua sistem hari yang berjalan beriringan.

Siklus mingguan tujuh hari, seperti Ahad hingga Sabtu, bercorak Arab, dan siklus pancawara yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, memberikan warna tersendiri dalam tradisi masyarakat Jawa.

“Siklus pancawara mencerminkan filosofi waktu yang hidup dan bernapas. Setiap hari pasaran punya energi dan karakter tersendiri,” jelas Ghoffar.

Kalender ini masih digunakan luas di wilayah Jawa dan Madura, menjadi rujukan dalam berbagai kegiatan budaya, adat, dan spiritual.

Namun, Ghoffar mencatat bahwa Banten menjadi salah satu daerah yang tidak mengadopsi sistem ini secara menyeluruh.

“Ini menunjukkan dinamika penyebaran budaya yang tidak selalu seragam,” katanya.

Sebagai warisan Sultan Agung, Kalender Jawa bukan sekadar alat hitung waktu, melainkan refleksi kebudayaan, spiritualitas, dan persatuan.

Ia menjadi simbol bagaimana masa lalu mampu menjembatani perbedaan dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#raja mataram #tradisi islam #kalender jawa #asal usul #Hijriyah #Tahun Saka #sultan agung