RADARBANYUWANGI.ID – Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur kembali menunjukkan aktivitas tinggi.
Gunung berketinggian 1.584 meter itu meletus pada Selasa (17/6) petang, memuntahkan abu vulkanik dan material pijar.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status gunung tersebut ke Level IV atau Awas.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra menyampaikan bahwa masyarakat di sekitar lereng gunung diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 7 kilometer, serta sektoral 8 kilometer ke arah utara–timur laut dari kawah aktif.
“Status Gunung Lewotobi Laki-laki telah ditingkatkan ke Level Awas. Masyarakat diminta menjauh dan mematuhi imbauan petugas,” ujarnya, Rabu (18/6).
Sebagai langkah mitigasi, akses jalan utama Maumere–Larantuka resmi ditutup sementara. Penutupan dilakukan melalui koordinasi antara Polres Flores Timur dan Polres Sikka.
Personel Polsek Wulanggitang dan Bhabinkamtibmas juga digerakkan untuk melakukan patroli, sosialisasi, dan pembagian masker kepada warga di sekitar zona merah.
“Personel kami sudah disiagakan di lapangan untuk membantu evakuasi, memberikan edukasi, dan menjaga keselamatan masyarakat,” tambah Henry.
Pihak kepolisian juga terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTT, PVMBG, dan Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Pululera untuk pembaruan informasi secara berkala.
“Kami imbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, tapi tetap waspada dan mengikuti informasi dari sumber resmi,” tegasnya.
Sejarah Lewotobi Laki-laki: Dua Gunung, Dua Watak
Gunung Lewotobi Laki-laki merupakan bagian dari dua gunung kembar di Flores Timur, yakni Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan.
Nama “Lewotobi” berasal dari bahasa setempat yang berarti “negeri yang bertuan”.
Lewotobi Laki-laki dikenal lebih aktif dan memiliki karakter letusan eksplosif. Sejak abad ke-17, gunung ini telah tercatat mengalami lebih dari 20 kali erupsi, dengan letusan besar terakhir pada awal tahun 2024 lalu.
Dalam tradisi masyarakat lokal, gunung ini dianggap sebagai lambang kekuatan dan ketegasan, kontras dengan Lewotobi Perempuan yang digambarkan lebih tenang.
Kedua gunung ini juga sarat dengan nilai budaya dan spiritual masyarakat Flores Timur.
Dalam upacara adat, aktivitas gunung sering dimaknai sebagai pesan dari alam, dan warga biasanya melakukan ritual-ritual adat sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan alam tersebut.
Kini, dengan meningkatnya aktivitas Lewotobi Laki-laki, masyarakat kembali diingatkan pada siklus alam yang tak bisa ditebak.
Kewaspadaan, koordinasi, dan solidaritas menjadi kunci dalam menghadapi ancaman erupsi ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin