RADARBANYUWANGI.ID – Aksi Presiden Prabowo Subianto memberikan jam tangan mewah Rolex kepada para pemain Timnas Indonesia menuai sorotan.
Mantan ratu wushu Indonesia, Lindswell Kwok, buka suara.
Dia menilai langkah itu mencerminkan kesenjangan mencolok dalam perhatian negara terhadap cabang olahraga (cabor) di luar sepak bola.
Melalui unggahan di media sosial, Lindswell menyuarakan kegelisahannya.
Ia membandingkan anggaran yang diterima PSSI—mencapai nyaris Rp 200 miliar—dengan cabor lain seperti wushu yang hanya mendapatkan jatah Rp 10-30 miliar.
“Saat sepak bola diberi jam ratusan juta, wushu malah dipulangkan karena alasan efisiensi,” tulis Lindswell.
Ia mengaku sedih karena atlet wushu junior yang telah berlatih selama delapan bulan di Pelatnas tiba-tiba dihentikan programnya.
Menpora Buka Suara
Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo, merespons kritik tersebut. Ia menyebut pemulangan atlet wushu bukan tanpa alasan.
Menurutnya, Pelatnas memang diprioritaskan untuk Asian Youth Games 2025 di Bahrain, di mana wushu tidak termasuk dalam daftar cabang yang dipertandingkan.
“Pelatnas tahap awal sudah dijalankan sejak November 2024 hingga April 2025. Karena di Asian Youth Games nanti wushu tidak dipertandingkan, maka pelatnas dihentikan sementara,” kata Dito kepada awak media, Selasa (10/6).
Namun, Dito memastikan bahwa program menuju Youth Olympic Games 2026 tetap berjalan. Pelatnas wushu junior akan kembali digelar setelah Asian Youth Games selesai.
“Masih ada waktu satu tahun hingga Youth Olympic, jadi pelatnas akan dimulai kembali,” tegasnya.
Kritik Bukan untuk Menjatuhkan
Lindswell menegaskan, kritiknya bukan ditujukan kepada sepak bola, melainkan sebagai bentuk seruan keadilan dalam pembinaan atlet nasional. Ia ingin pemerintah memberi porsi perhatian yang seimbang ke semua cabor.
“Ini bukan tentang iri. Tapi soal keadilan bagi atlet-atlet yang berjuang dalam senyap,” ucapnya.
Dito pun tak memungkiri bahwa Presiden Prabowo memiliki perhatian tinggi terhadap olahraga.
Pemberian jam tangan mewah kepada skuad Garuda disebut sebagai bentuk apresiasi atas capaian luar biasa Timnas Indonesia yang lolos ke babak berikutnya Kualifikasi Piala Dunia 2026.
“Apresiasi itu pantas karena Timnas menorehkan sejarah,” pungkas Dito. (*)
Editor : Ali Sodiqin