Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Sederet Bukti Masyarakat Mulai Malas Nonton TV? Warganet Gemas Sering Ambil Konten Cringe di TikTok

Ali Sodiqin • Senin, 5 Mei 2025 | 17:35 WIB
Kompas TV dan stasiun TV lain lakukan layoff atau PHK massal sampai ada yang tutup kantor. (Kolase Instagram)
Kompas TV dan stasiun TV lain lakukan layoff atau PHK massal sampai ada yang tutup kantor. (Kolase Instagram)

RADARBANYUWANGI.ID - Industri media penyiaran di Indonesia, termasuk Kompas TV, saat ini berada dalam situasi yang sulit akibat perubahan pola konsumsi masyarakat.

Berdasarkan informasi yang diunggah oleh akun X @PartaiSocmed pada Jumat (2/5/2025), sejumlah stasiun televisi besar di Tanah Air terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan menutup kantor cabang mereka.

Kondisi ini menjadi sorotan publik dan mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh media konvensional di era digital.

Dalam unggahan tersebut, dilaporkan bahwa Kompas TV telah memberhentikan ratusan karyawannya.

Sementara itu, GlobalTV, yang berada di bawah naungan MNC Group, melakukan pengurangan staf sebesar 30% di divisi produksi, dan secara keseluruhan MNC Group telah melepas sekitar 400 karyawan.

RTV juga mengurangi 40 orang karyawan di setiap divisinya, sedangkan iNews mengambil langkah drastis dengan menutup seluruh kantor cabangnya di berbagai wilayah.

Penurunan minat masyarakat terhadap tayangan televisi lokal menjadi salah satu penyebab utama kondisi ini.

Data dari GoodStats yang dirilis pada Oktober 2024 menunjukkan bahwa 57% responden mengaku terakhir kali menonton TV lokal beberapa bulan sebelumnya, sementara 4% lainnya bahkan tidak pernah menonton TV lokal sejak lahir.

Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, juga mengakui adanya tren penurunan jumlah penonton televisi dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan preferensi masyarakat ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi digital.

Platform seperti YouTube dan layanan streaming berbayar, seperti Netflix, Prime Video, Hotstar, dan Max, kini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk mengakses hiburan dan informasi.

Baca Juga: Presenter Kompas TV Pamit Terakhir Siaran, Berikut Daftar Perusahaan Media Lakukan PHK Massal Efisiensi Karyawan (layoff) hingga 2025

 Hal ini membuat Kompas TV dan stasiun televisi lokal kesulitan bersaing, baik dari segi konten maupun pendapatan iklan.

Reaksi masyarakat di media sosial mencerminkan sentimen yang sama. Salah seorang pengguna X mengungkapkan bahwa perubahan tren menjadi penyebab utama krisis ini.

"Sekarang orang lebih suka nonton YouTube daripada TV lokal. Di smart TV saja, YouTube lebih sering dipilih ketimbang TV digital. Apalagi banyak layanan streaming berbayar yang masuk ke Indonesia, TV lokal jadi makin sulit bersaing," tulisnya.

Pengguna lain juga mengkritik kualitas tayangan televisi saat ini.

"Saya males nonton TV karena acaranya gak menarik. Banyak stasiun yang cuma ambil konten cringe dari TikTok, lalu dibikin acara TV. Kayak acara di stasiun berinisial Ind***ar dan MD, kontennya gak lucu tapi dipaksain lucu," ujarnya.

Kondisi ini menjadi alarm bagi industri media penyiaran di Indonesia untuk segera beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tanpa inovasi konten dan strategi yang relevan dengan kebutuhan penonton modern, nasib stasiun televisi lokal bisa semakin terpuruk di tengah gempuran platform digital yang terus berkembang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#stasiun tv #Nonton televisi #Layoff #tv #Kompas TV #Konten TikTok #malas