RADARBANYUWANGI.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru-baru ini memimpin rapat bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Agama.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menceritakan pengalaman pribadinya saat anaknya mengikuti kegiatan Manasik Haji di Taman Kanak-kanak (TK).
Dikutip dari Radar Bogor, Dedi mengawali ceritanya dengan menanyakan keberadaan putrinya, Ni Hyang, yang sedang mengikuti kegiatan manasik.
"Di mana Ni Hyang?" tanyanya. Sang putri menjawab, "Lagi manasik." Ketika Dedi menanyakan lokasi kegiatan tersebut, Ni Hyang menjawab, "Di Cipanas."
Mendengar hal itu, Dedi pun bergegas menuju Cipanas untuk menjemput anaknya. "Saya menyusul di Cipanas, ternyata di areal rumah makan yang relatif mahal," ungkapnya.
Ia juga menyayangkan kondisi para peserta manasik haji TK yang harus berpanas-panasan saat kegiatan berlangsung.
"Budak teh panas, jam 12, kuat pucet. Anak saya dijemput pake mobil, yang lain pake colt bak pak, neneknya ikut," ceritanya dengan nada prihatin.
Dalam rapat tersebut, Dedi juga mempertanyakan manfaat dari kegiatan Manasik Haji bagi anak-anak di jenjang pendidikan TK.
"Saya bilang, manfaatnya apa, toh lamun urang rek umroh, kan engke aya latihan manasik. Rek haji latihan manasik," tuturnya.
Ia menilai bahwa kegiatan tersebut berhubungan erat dengan kesejahteraan guru TK. "Ujungnya apa sih? Nambah kegiatan akibat guru TK-nya engga sejahtera," ungkapnya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kegiatan manasik haji tidak perlu dilakukan di tingkat TK. "Menurut saya, yang gini-gini engga usahlah," usulnya.
Rapat yang dipimpin oleh Gubernur Dedi Mulyadi ini bertujuan untuk menentukan visi dan misi pendidikan di Jawa Barat, melibatkan Kepala Dinas Pendidikan dari seluruh wilayah di provinsi tersebut serta perwakilan dari Kementerian Agama.
Diharapkan, hasil dari rapat ini dapat memberikan arah yang lebih baik bagi pendidikan di Jawa Barat ke depannya. (*)
Editor : Ali Sodiqin