RADAR BANYUWANGI - Tingginya arus pemudik dari Pulau Bali menuju Jawa membuat otoritas pelabuhan di Ketapang - Gilimanuk bekerja ekstra keras untuk mengatasi kepadatan lalu lintas.
Sebanyak 32 kapal diterjunkan guna memperlancar mobilitas penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan jumlah kendaraan dan penumpang yang terus meningkat jelang penutupan Pelabuhan sebelum perayaan Nyepi di Bali.
Dari data produksi ASDP Ketapang, tercatat ada 44.662 orang dan 13.614 kendaraan campuran yang menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang sejak Sabtu (22/3) malam hingga Minggu (23/3) pagi.
Sedangkan dari arah Ketapang ada 24.594 penumpang dan 4.821 kendaraan yang menyeberang ke Bali.
Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah menerapkan operasional tambahan di dermaga (Moveable Bridge) MB 4 dengan melibatkan empat kapal perbantuan.
Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, ASDP mendapatkan tiga kapal perbantuan yang dioperasikan di MB 4 untuk mempercepat penguraian kepadatan dengan metode Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
Di antaranya adalah KMP Munich 1, KMP Parama Kalyani dan KMP Nawasena yang sebelumnya berada di lintasan Padang Bai- Lembar.
Mereka ditugaskan untuk mengangkut penumpang dari Bali. Selain itu, ASDP juga menyiagakan KMP Prathita IV di dermaga Ponton yang bisa digunakan sewaktu-waktu.
"Kapal perbantuan ada tiga untuk membantu kelancaran. Sedangkan yang di ponton kita minta Stanby. Ini untuk mengurai kepadatan dari Bali," kata GM ASDP Ketapang, Yani Andriyanto.
Korsatpel Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, menambahkan, lonjakan pemudik telah menyebabkan antrean kendaraan di sekitar Pelabuhan Gilimanuk mengular hingga mencapai tiga kilometer.
Dari laporan petugas di lapangan, para pemudik tidak hanya menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil, tetapi juga banyak yang menyeberang menggunakan bus dan travel.
Bahkan, sejak Sabtu malam, beberapa rombongan travel dari Pulau Jawa terpantau menyeberang ke Bali untuk menjemput para pemudik.
Karena itu, salah satu langkah yang dilakukan adalah menambah jumlah kapal yang beroperasi. Jika biasanya ada 28 kapal yang beroperasi secara reguler, Minggu (23/3) ada 32 kapal yang dioperasikan.
"Kami telah menambah jumlah kapal operasional untuk memastikan penyeberangan berlangsung lancar. Namun, tingginya volume kendaraan tetap menyebabkan antrean cukup panjang," ujar Bayu.
Di sisi lain, Bayu melihat peningkatan jumlah pemudik yang berjalan lebih awal menunjukan masyarakat sudah menangkap informasi dengan baik.
Karena jika mereka seluruhnya memilih untuk mudik pada tanggal 25 atau 26 Maret sebelum penutupan, dikawatirkan penumpukan akan semakin parah.
"Kita lihat sosialisasi sudah sampai ke masyarakat, skema TBB akan terus kita terapkan sampai Gilimanuk benar-benar lancar,"tegasnya. (fre)
Editor : Ali Sodiqin