RadarBanyuwangi.id - Banjir besar yang melanda Bekasi pada Selasa (4/3) memaksa ribuan warga mengungsi.
Hujan deras di wilayah hulu Kali Bekasi, terutama Bogor, memicu lonjakan debit air yang tak terbendung.
Situasi semakin memburuk akibat sistem drainase yang tidak mampu menampung volume air yang terus meningkat.
Hujan lebat yang mengguyur sejak Minggu (2/3) di Bogor menyebabkan air sungai meluap ke Bekasi. Ditambah lagi, curah hujan tinggi di Bekasi sendiri membuat banjir semakin meluas.
Akibatnya, tujuh kecamatan di Kabupaten Bekasi terendam, dengan ketinggian air bervariasi antara 20 cm hingga 3 meter.
Menurut BPBD Kabupaten Bekasi, kombinasi curah hujan ekstrem, aliran air dari Bogor, dan buruknya sistem drainase menjadi faktor utama bencana ini.
Topografi Bekasi yang datar juga memperlambat aliran air, menyebabkan genangan lebih lama surut. Selain itu, jenis tanah yang kurang menyerap air semakin memperburuk kondisi.
Tak hanya faktor alam, pembangunan yang tak terkontrol juga memperparah situasi. Alih fungsi lahan dan minimnya ruang terbuka hijau membuat air sulit terserap ke dalam tanah.
Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menyoroti posisi Bekasi yang berada di dataran rendah, menyebabkan air dari wilayah hulu sulit mengalir keluar.
BPBD Kota Bekasi telah mengevakuasi ratusan warga di Bekasi Utara dan Bekasi Timur. Di Bekasi Utara, 360 warga mengungsi ke Musala Jumiatur Khoir, sementara 400 jiwa di Bekasi Timur dievakuasi ke rumah warga.
Banjir kali ini tidak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga merusak infrastruktur seperti jembatan dan jalan utama.
Aktivitas ekonomi lumpuh, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal. Bencana ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan tata ruang yang lebih baik agar kejadian serupa tak terus berulang. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi