RADAR BANYUWANGI – KH Raden As’ad Syamsul Arifin, seorang ulama terkemuka dan pahlawan nasional, memiliki peran penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sejarahnya, KH As’ad menjadi wasilah antara Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Cholil Bangkalan, yang merupakan guru dari kedua tokoh tersebut.
Pada akhir tahun 1924, KH As’ad diutus oleh KH Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat dan pesan penting kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Pesan tersebut disertai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menceritakan mukjizat Nabi Musa.
Setahun kemudian, KH As’ad kembali diutus untuk menyampaikan tasbih yang dilengkapi dengan bacaan Asmaul Husna.
Dalam perjalanan tersebut, KH As’ad menunjukkan komitmen dan takzimnya sebagai santri dengan tidak menyentuh tasbih yang merupakan amanah dari KH Cholil.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, KH Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa Allah SWT telah memperbolehkan mereka untuk mendirikan jam’iyah, yang kemudian dikenal sebagai Nahdlatul Ulama.
Peran KH As’ad dalam pendirian NU menjadikannya sebagai ‘santri khos’ dari kedua ulama besar tersebut.
KH As’ad lahir di Makkah pada tahun 1897 dan dibawa pulang ke Indonesia pada usia enam tahun. Ia menuntut ilmu di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Banyuanyar dan Madrasah Shaulatiyah di Makkah.
Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Sukorejo, yang berkembang pesat dan melahirkan Universitas Syafi’iyah pada tahun 1968.
Di era pergerakan nasional, KH As’ad aktif melawan penjajahan Belanda dan Jepang.
Ia terlibat dalam perang gerilya dan mengorganisir santri serta masyarakat untuk berjuang demi kemerdekaan.
Kiai As’ad dikenal karena kemampuannya dalam memotivasi para pemuda dan santri untuk berjuang dengan niat menegakkan agama dan membela negara.
Selain itu, KH As’ad juga berperan dalam mengembalikan NU ke Khittah 1926, menekankan pentingnya fokus pada aspek keagamaan dan keulamaan.
Karya-karyanya dalam bidang akidah, fikih, dan sejarah Islam menunjukkan dedikasinya terhadap pendidikan dan penyebaran ajaran Islam.
KH Raden As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.
Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2016, sebagai penghargaan atas kontribusinya yang besar dalam sejarah bangsa dan agama.
Warisan perjuangan dan pemikirannya terus menginspirasi generasi penerus dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Islam di Indonesia. (*)
Editor : Ali Sodiqin