Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ditulis 3 Hari Sebelum Meninggal, Ini Coretan Terakhir Siswi MI Korban Rudapaksa di Tembok Rumahnya di Kalibaru Banyuwangi

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 15 November 2024 | 18:00 WIB
KENANGAN: Tulisan tangan DC masih menempel di tembok rumahnya tiga hari sebelum ditemukan meninggal di kebun sengon dekat rumahnya.
KENANGAN: Tulisan tangan DC masih menempel di tembok rumahnya tiga hari sebelum ditemukan meninggal di kebun sengon dekat rumahnya.

RadarBanyuwangi.id - Duka masih menyelimuti rumah bocah berinisial DC, 7, di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, yang diduga menjadi korban rudapaksa hingga berujung kematiannya.

Kamis (14/11/24), sejumlah warga terus berdatangan ke rumah bocah yang meninggal dengan mengenaskan itu.

Hingga berita ini ditulis, sekitar pukul 17.00 (14/11), kedua orang tua korban, A, 35, dan istrinya, SA, 32, masih syok dan belum bisa ditemui.

”Keluarga kami masih sangat terpukul, apa salah kami sampai ini terjadi,” kata kakek DC, S, 55, kepada Jawa Pos Radar Genteng.

S menyebut, dalam kesehariannya DC itu sangat dekat dengannya.

Apalagi, ayah kandung bocah malang itu bekerja di PT Pesona Indonesia Plywood Industri (PIPI) di Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, dan pulang seminggu sekali.

”Kalau tidak main sama kakaknya (BT, 11) setiap hari ya nggelibet sama saya,” ucapnya.

Meski mengaku tidak mendapat firasat aneh sebelum kejadian memilukan itu, S rupanya sempat diberi pertanyaan yang mengagetkan mengenai surga oleh cucunya itu.

”Tiga hari sebelum kejadian, tepatnya pada Minggu, (10/11), DC tanya, apa kalau rajin salat nanti bisa masuk surga?” katanya menirukan pertanyaan DC.

Kala itu, S dan cucunya itu sedang duduk-duduk di teras rumah. Dia yang tinggal serumah dengan DC, saat itu langsung mengiyakan.

”Saya jawab iya. Itu kan pertanyaan yang mengagetkan,” ucapnya seraya menyebut DC biasa salat berjemaah bersamanya di masjid.

Selain pertanyaan yang kemudian dimaknai sebagai pertanda oleh S, bocah periang itu juga sempat membuat catatan kecil di tembok rumahnya.

”Di waktu yang sama, anak ini (DC) menulis sesuatu di tembok. Itu tulisannya,” katanya seraya menunjuk tembok samping kiri rumahnya.

Di tembok itu, jelas dia, DC menulis namanya, lalu nama kakak, mama, dan papa yang diapit gambar hati menggunakan spidol warna hitam.

Tulisan itu menggambarkan betapa sayangnya anak kecil ini terhadap keluarganya.

”Anak ini sayang sekali ke keluarganya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Selama ini, lanjut S, DC juga dikenal sebagai cucu yang mandiri.

Anak kedua dari S dan D itu, biasa mencuci pakaiannya sendiri. Apalagi, setelah ibunya mulai membatasi aktivitas fisik lantaran sedang hamil tua.

”Itu yang di sana pakaiannya dia (DC), itu dia sendiri yang mencuci dan menjemur,” tutur S sembari menunjuk arah jemuran pakaian di samping rumah.

S berharap polisi bisa segera mengungkap siapa pelaku yang tega melakukan kejahatan sekeji itu kepada cucu kesayangannya.

”Kalau pelaku ketemu, semuanya kami serahkan pada kepolisian,” jelasnya.

Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) tempat korban sekolah, Heru Prayitno, 42, mengungkapkan keseharian DC di sekolah.

”Dia (DC) salah satu anak yang paling rajin di sekolah, penurut, tidak neko-neko, dan selalu ceria,” ucapnya seraya menyebut di kelas DC duduk di bangku urutan depan.

Bocah itu, terang Heru, kalau pagi datang di sekolah selalu paling awal dibanding teman-temannya yang lain.

”Kami punya 86 murid, salah satu yang datangnya duluan ya anak ini. Memang sangat rajin, meskipun masih kelas satu,” terangnya.

Kepergian DC yang cukup tragis, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga besar sekolah.

Heru menyebut, untuk sementara pihaknya meliburkan kegiatan belajar mengajar di MI yang berdiri sejak 2016 lalu. Seluruh siswa diminta belajar di rumah.

”Ini bentuk keprihatinan serta rasa berkabung atas meninggalnya salah satu anak didik kami ini,” Tandasnya.

Seluruh guru berada di rumah duka. Heru mengungkap para guru diminta membantu menenangkan orang tua korban yang masih terpukul.

”Seluruh guru termasuk wali kelas korban, saya arahkan ke rumah duka. Diniatkan membantu menenangkan kedua orang tuanya yang masih terpukul,” pungkasnya. (sas/abi/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Korban Rudapaksa Meninggal #tembok rumah #tulisan #siswi mi #kalibaru #banyuwangi