Radar Banyuwangi – Kasus rudapaksa yang menimpa DC, bocah 7 tahun asal Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi mendapat perhatian semua pihak.
Bahkan, salah satu pengacara kondang Tanah Air Hotman Paris menyampaikan keinginannya membantu kasus korban rudapaksa itu hingga tuntas.
“Tim Hotman juga sudah mulai bergerak. Mudah-mudahan kami bisa membantu," ujar Hotman Paris dalam unggahan video singkat di akun IG @hotmanparisofficial.
@hotmanparisofficial juga menulis tentang “Laporan tim Hotman 911 di Banyuwangi: Siap bu dhea salam sama bang hotman bahwa terkait dg perkara yg ada dbanyuwangi kebetulan team saya anggota KPAI mendampingi olah tkp dan saat ini saya sdh koordinasi dg team utk perkara ini sdh dhandle oleh hotman paris.”
Dalam video tersebut, Hotman juga meminta aparat kepolisian, khususnya Kapolresta Banyuwangi dan Kapolda Jatim untuk mengungkap kasus tersebut.
“Mohon segera Bapak Kapolda Jawa Timur dan Bapak Kapolres Banyuwangi segera kasik atensi, kirim segera tim ke pemeriksa ke lapangan, dan amankan semua TKP, amankan semua saksi-saksi, dan amankan semua yang diduga pelaku,” kata Hotman.
Seperti diberitakan sebelumnya, nasib nahas menimpa bocah perempuan berinisial DC, 7, asal Dusun Barurejo, Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.
Anak ini ditemukan tak bernyawa dengan kondisi separo telanjang di kebun sengon yang tidak jauh dari rumahnya, Rabu (13/11).
Bocah kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu diduga menjadi korban rudapaksa.
Saat ini, pelaku masih diburu oleh anggota Polsek Kalibaru dan Polresta Banyuwangi.
“Kejadiannya saat korban pulang sekolah,” kata salah satu warga di sekitar lokasi kejadian, Abdul Azis, 53.
Menurut Azis, korban ini kali pertama ditemukan oleh ibu kandungnya, SA, 35, yang kini sedang hamil tua.
“Anak ini biasanya dijemput oleh ibunya, tapi karena ibunya sedang hamil mungkin capek atau bagaimana, tadi tidak dijemput,” ujarnya.
Biasanya korban ini pulang sekolah dengan naik sepeda kayuh sampai rumah sekitar pukul 10.15. Karena hingga siang tidak pulang, ibu korban menghubungi pihak sekolah.
“Ibunya sempat bingung, anaknya kok belum pulang,” terangnya ditemui Jawa Pos Radar Genteng di rumah duka.
SA, wali kelas, dan kepala sekolah, jelas dia, kemudian menyusuri jalan yang dilewati korban saat pulang sekolah. Jalan itu, sebenarnya jarang dilewati orang asing.
“Saat menyusuri jalan itu, korban ditemukan sudah tergeletak di tengah kebun, masih pakai baju seragam, tapi tidak pakai celana,” ujarnya.
Korban yang ditemukan dengan kondisi tragis itu, langsung digendong oleh kepala sekolahnya, Heru Prayito, 42, ke Klinik NU Kalibaru.
“Baju pak kepala sekolah sampai penuh darah, ternyata sudah meninggal dan dibawa ke RSUD Genteng,” tuturnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin