RadarBanyuwangi.id – Sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Ijen mengeluh lantaran tidak bisa melihat keindahan blue flame (api biru) di dekat kawah.
Berangkat pukul 02.00 dengan harapan bisa melihat api biru, kenyataannya tak sesuai ekspektasi. Wisatawan domestik maupun mancanegara banyak yang kecewa setelah sampai puncak Ijen.
Hari Minggu kemarin (20/10), meski weekend pengunjung Ijen agak sepi karena tak bisa menyaksikan blue fire.
”Blue fire jadi polemik lagi. Banyak wisatawan dan agent tour mengeluh karena tak bisa melihat blue fire. Saya sudah kehabisan kata untuk menjelaskan ke wisatawan, terutama mancanegara yang agak ngeyel bahwa kita dilarang turun mendekati titik api,” ujar salah seorang tour guide yang tidak mau disebut namanya.
Keluhan tidak hanya dirasakan wisatawan, tapi juga travel agent dari Surabaya, Jogjakarta, Malang, dan Bali.
Mereka mengeluh tamunya menurun karena tidak bisa menyaksikan blue fire. Akhirnya banyak yang kecewa. Ada juga yang balik kucing. Sudah susah-susah naik Ijen, tapi tidak sesuai harapan.
”Kekecewaan wisatawan sangat berpengaruh sekali terhadap kunjungan,” ungkap tour guide asal Banyuwangi itu.
Diungkapkan oleh dia, BKSDA sendiri tidak pernah menjelaskan alasan pasti kenapa tidak ada blue fire. Informasi dari beberapa guide, pipa belerang di bawah mengalami kerusakan sehingga tidak bisa muncul api biru.
Versi lain, BKSDA takut memberikan izin melihat blue fire karena sudah terjalin MoU dengan Polda Jatim dan Polres Banyuwangi.
Dengan demikian, jika ada wisatawan atau guide turun ke dekat kawah bisa terkena sanksi pidana.
”Tapi saya lihat Minggu kemarin wisatawan banyak yang turun kok. Mereka tidak dapat apa-apa, hanya kelihatan asap hitam aja, nggak ada apinya. Lha wong apinya mati,” ungkapnya.
Baca Juga: Tarif Masuk Kawah Ijen Per 1 Oktober 2024, Ada Tambahan Premi Asuransi
Kepala Bidang KSDA Wilayah III pada BBKSDA Jatim Purwantono mengatakan, sesuai SOP terbaru, wisatawan dilarang turun mendekati kawah karena masuk area terlarang dan berbahaya untuk para pengunjung.
”Dari hasil asesmen sebelum Ijen dibuka kembali, pendakian TWA Kawah Ijen jarak amannya dengan radius 5 kilometer. Sesuai SOP, wisatawan dilarang turun ke dekat kawah,” jelasnya.
Purwantono menegaskan, aturan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tentu pihak pengelola yang disalahkan.
”Kami sebagai pengelola hanya mengantisipasi terjadinya hal-hal yang membahayakan bagi pengunjung, khususnya yang dapat menimbulkan korban jiwa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banyuwangi Andika Rahmat Hidayat mengatakan, pihaknya tetap mematuhi regulasi BKSDA terkait dengan jarak aman untuk melihat blue fire. Yakni, 500 meter dari titik api.
Menurut Andika, dari titik itu wisatawan memang tidak visa melihat kobaran api. Namun demi keselamatan, para guide tetap melarang sembari mengedukasi wisatawan bahwa aktivitas mendekati blue fire adalah tindakan ilegal.
Banyak wisatawan yang memahami hal tersebut. Meskipun banyak juga wisatawan, terutama wisatawan asal Tiongkok, yang memaksa untuk bisa melihat blue fire. Tapi, baik guide maupun penambang tetap kekeh melarang siapa pun mendekati blue fire.
”Ini demi keselamatan dan kondusivitas Ijen. Kalau ada kasus lagi, kemudian Ijen ditutup kan semuanya jadi terhambat lagi,” tegas Andika.
Para pemandu wisata, menurut Andika, juga memberikan opsi lain pada wisatawan saat mendaki Ijen. Seperti view puncak gunung, view kawah, dan pengalaman sosial berinteraksi dengan penambang. Mayoritas wisatawan bisa memahami hal tersebut.
”Memang saat ini kobaran blue fire tidak sebesar dulu. Kata para penambang, setelah ada aktivitas PT Medco di kawah berpengaruh pada besaran api. Jadi, dari titik terakhir pemantauan blue fire tidak terlihat sebesar dulu,” pungkasnya. (rio/cw1/fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin