RadarBanyuwangi.id – Program solidaritas bidang pendidikan yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi, yakni Siswa Asuh Sebaya (SAS) kembali mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat.
Kali ini, penghargaan datang dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen-PANRB).
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri PANRB Abdullah Azwar Anas kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sugirah.
Penyerahan penghargaan dilakukan dalam forum Pemantauan dan Keberlanjutan Replikasi Inovasi (PKRI) di Jakarta, Rabu (8/10).
Penyerahan penghargaan juga disaksikan sejumlah menteri. Di antaranya Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.
PKRI merupakan apresiasi bagi instansi pemerintah yang telah melakukan pembinaan inovasi dengan baik dan mampu menjaga keberlanjutannya serta melakukan replikasi inovasi pelayanan publik.
Ini merupakan bentuk evaluasi menyeluruh terhadap pembinaan inovasi pelayanan publik yang dihasilkan dari kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP).
Program SAS terpilih setelah melalui serangkaian evaluasi terhadap 979 inovasi dari 631 instansi yang dinilai dari kurun 2014 hingga 2023.
Adapun penilaian PKRI dilakukan pada dua kelompok, yakni kelompok keberlanjutan inovasi dan kelompok replikasi inovasi.
Program SAS yang digulirkan Pemkab Banyuwangi meraih penghargaan pada kelompok keberlanjutan inovasi untuk kategori kabupaten.
Plt Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan RB Abdul Hakim mengatakan, SAS Banyuwangi bukan hanya berhasil dipertahankan, tetapi juga terus dikembangkan hingga sekarang.
”Ini yang penting. Bahwa inovasi tidak hanya diciptakan, namun juga harus dijaga keberlangsungannya. Ke depan adalah bagaimana untuk melembagakan inovasi ini supaya praktik baiknya bisa direplikasi daerah lain,” kata dia.
Sementara itu, Plt Bupati Sugirah sangat bersyukur inovasi Banyuwangi kembali mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat.
”Alhamdulillah, inovasi Banyuwangi terus mencatatkan prestasi. Penghargaan ini menjadi pelecut bagi kami untuk terus berinovasi lebih baik ke depan,” ujarnya.
Sugirah menjelaskan, program SAS adalah upaya pemkab untuk mendorong empati dan solidaritas di kalangan pelajar.
Dalam program ini, pelajar dari keluarga mampu memberi dana sukarela ke teman sebayanya dari keluarga kurang mampu. Pengelolaannya dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa.
Sejak diluncurkan pada 2011, saat ini SAS berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 27,71 miliar dengan menjangkau lebih dari 250 ribu siswa.
Uang yang terkumpul, secara periodik dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder siswa setempat.
Seperti untuk beli baju sekolah, sepatu, tas, alat tulis, atau bahkan uang saku bagi siswa yang kurang mampu. Termasuk untuk membelikan kacamata hingga sepeda mini agar siswa kurang mampu tidak terlambat datang ke sekolah.
”Tidak semua masalah pendidikan mampu ditangani pemerintah. Program SAS jadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan tangan pemerintah dalam membiayai pendidikan masyarakat,” tutur Sugirah.
Dalam perjalanannya, SAS bertransformasi menjadi Sekolah Asuh Sekolah, Sekolah Asuh Stunting, Sekolah Asuh Sampah, dan Sekolah Asuh Sungai.
Lewat Sekolah Asuh Sekolah, sekolah yang memiliki dana SAS besar akan disalurkan ke siswa kurang mampu dari sekolah lain.
Sedangkan Sekolah Asuh Stunting dalah program yang merangkul siswa dan guru untuk memberikan makanan bergizi bagi balita tengkes (stunting) dan ibu hamil risiko tinggi di sekitar sekolah.
”Sejak 2023, SAS juga berkembang. Sekolah dilibatkan merawat sungai yang ada di dekat lokasinya dan mengelola sampah yang dihasilkan di sekolah. Pelibatan siswa ini sebagai bentuk pendidikan lingkungan sejak dini,” pungkasnya.
Sebelumnya, pemkab beberapa kali mendapat penghargaan berkat program SAS. Salah satunya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2020 lalu.
Pada 2022, SAS juga ”mengantarkan” Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi mendapat penghargaan pada Peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Jatim. (sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin