RadarBanyuwangi.id - Angka kasus kekerasan seksual di transportasi umum, khususnya KRL, menunjukkan peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2024.
Hingga Agustus, PT KAI Commuter mencatat telah terjadi 43 kasus kekerasan seksual.
Dari jumlah tersebut, 30 kasus berhasil tertangkap tangan, sementara 13 kasus lainnya dilaporkan melalui media sosial dan call center.
Direktur Operasi dan Pemasaran KAI Commuter, Broer Rizal, mengungkapkan bahwa lonjakan laporan ini dipicu oleh keberanian korban yang semakin meningkat dalam melaporkan insiden pelecehan yang mereka alami.
"Sekarang korban sudah lebih berani bicara. Ini menjadi alasan mengapa laporan yang kami terima cukup tinggi, terutama di tahun 2023 dan terus meningkat di 2024," jelas Broer dalam acara "Kampanye Stop Kekerasan Seksual di Transportasi Publik" di Stasiun BNI City, Senin (2/9).
Sebagai upaya pencegahan, KAI Commuter telah mengadopsi teknologi canggih dengan menerapkan sistem Analytic Recognition (CCTV Analytic) yang mampu mengidentifikasi pelaku melalui rekaman wajah, kemudian menyimpannya dalam database.
Sistem ini diharapkan dapat menekan tindak pelecehan dan kejahatan lainnya di KRL.
Sebagai bagian dari kampanye anti-kekerasan, KAI Commuter menggelar sosialisasi di beberapa titik strategis, termasuk Hall Stasiun BNI City hingga terowongan Kendal dekat Stasiun Sudirman.
Kampanye ini juga digelar di Stasiun Dukuh Atas saat jam sibuk, untuk menjangkau lebih banyak pengguna KRL.
Dalam kegiatan kampanye ini, KAI Commuter berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan lembaga terkait guna memberikan edukasi dan menekan angka kekerasan seksual di transportasi umum. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi