RadarBanyuwangi.id – Warga Banyuwangi selatan berpotensi kembali menjadi korban tsunami besar seperti yang terjadi tahun 1994 silam.
Tsunami Pancer terjadi usai peristiwa Megathrust atau gempa bumi bermagnetudo 7,2 SR menghantam pesisir selatan Pulau Jawa pada tanggal 2 Juni 1994.
Akibat peristiwa kelam tersebut, ribuan warga Banyuwangi yang tinggal di Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya menjadi korban.
Tidak sedikit warga yang meninggal dunia, luka-luka, dan hilang ditelan ganasnya tsunami.
Untuk mengantisipasi terjadinya megathrust di Banyuwangi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar peserta apel siaga di lapangan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Selasa (27/8).
Apel ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah setempat, terhadap potensi bencana tsunami.
Apel siaga ini diikuti oleh berbagai elemen, termasuk Forpimka, relawan, masyarakat sekitar, dan perwakilan dari semua desa di Kabupaten Banyuwangi.
“Potensi tsunami di Indonesia, khususnya di Banyuwangi itu cukup besar,” terang kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto.
Dalam apel siaga ini, masyarakat dilatih untuk tanggap darurat jika terjadi tsunami.
Salah satu skenario yang diberikan apa yang harus dilakukan masyarakat saat mendengar sirine peringatan tsunami.
“Jika sirine berbunyi, masyarakat harus segera mencari tempat yang lebih tinggi dan aman,” katanya.
Danang menyampaikan juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan di kalangan masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan tsunami seperti di Dusun Pancer, Desa Sumberagung ini.
“Masyarakat harus siap dengan pakaian dan barang penting lainnya yang mudah dijangkau,” ujarnya.
Danang mengaku telah memasang Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) di delapan titik di sepanjang pesisir selatan Jawa Timur. (rei/abi)
Editor : Ali Sodiqin