RadarBanyuwangi.id – Temu Misti termasuk aset berharga Banyuwangi. Prestasi warga Dusun Kedaleman, Kecamatan Glagah, itu sebagai penari dan penyanyi gandrung sudah mendunia.
Terbaru, Maestro Gandrung Banyuwangi ini mendapat Penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) dari Kemendikbudristek.
Mengawali karir sebagai penari keliling dengan bayaran minim, kini dia sudah rekaman di Kanada. Bahkan, biografinya sudah muncul di majalah Time terbitan Amerika.
Temuk Misti memang sudah tidak muda lagi. Garis keriput sudah menghiasi wajahnya.
Rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai dan melambai dibelai angin. Postur tubuhnya juga bisa dibilang tidak lagi ideal untuk ukuran seorang penari.
Meski begitu, perempuan yang akrab disapa Mak Muk itu tetap konsisten menggeluti profesi sebagai penari gandrung.
Meski konsekuensinya, upah yang diterima kurang sepadan dengan kerja keras yang dilakoninya.
Selama puluhan tahun, Mak Muk rela hidup dalam kesederhanaan.
Hingga kini,dia tinggal di rumah sederhana di Desa Kemiren. Rumah itu berlantai semen.
Hanya ada satu televisi ukuran 14 inci sebagai hiburan. Ada juga perabot dua lemari kayu yang kosong di ruang tamu.
‘’Maaf, saya baru datang dari pentas gandrung di Kecamatan Rogojampi,’’ ujar Temu, saat ditemui di rumahnya kepada jurnalis Jawa Pos Radar Banyuwangi beberapa awal Bulan Agustus tahun 2007 lalu.
Meski wajahnya kelihatan lelah, Mak Muk cukup senang menerima tamu.
Sambil duduk di kursi tamu, dia mulai menceritakan perjalanan hidupnya.
‘’Dulunya saya manggung dari pentas satu ke pentas lainnya. Saya keliling menari dari desa satu ke desa lainnya bersama grup saya. Nama grupnya Sopo Ngiro (Siapa sangka). Pada tahun 1969, grup kami tampil hanya dibayar Rp 1.750. Itu pun ketika dibagi, per orang hanya mendapat Rp 400,’’ kenang anak pasangan Mustari dan Supiah.
Itu belum seberapa. Temu menghidupi masa kecilnya dengan menjadi penjual pisang goreng.
Dia kemudian banting setir menjadi penari gandrung, setelah tertarik melihat pamannya menyanyi lagu-lagu ganrung. Paman Temuk memang dikenal sebagai seorang musisi.
‘’Saat itu, saya hanya melihat paman menyanyikan lagu-lagu gandrung mulai Podho Nonton, Kembang Menur, Kembang Gadung, Tari Jejer, hingga lagu yang merupakan lagu wajib pengiring tarian gandrung,’’ jelasnya.
Setelah benar-benar bisa menari, Temuk meninggalkan profesi lama sebagai penjual pisang goreng.
Sejak saat itu, dia mulai melanglang buana menghibur masyarakat dengan olah gerak dan tarik suara.
Pada tahun 1967, Temu mulai mendapat saweran ketika tampil menari gandrung pentas di lapangan Glagah.
Waktu itu, saweran yang diterimanya Rp 11,-. Uang itu didapatnya dari para paju yang ingin menari bersamanya.
‘’Saya pernah pentas enam hingga 10 kali dalam sebulan. Bahkan tiga bulan pernah tidak sempat tidur karena banyaknya order pentasan. Namun saat ini, sudah jarang orang yang nanggap gandrung terop,’’ jelasnya.
Dengan alat sederhana yakni satu kendang, satu gong, satu kethuk dan dua piyul, Mak Temuk tetap meneruskan perjuangannya menjadi penari gandrung terop hingga kini.
‘’Sekarang saya juga menjadi guru tari gandrung di rumah. Saya selalu menyempatkan diri untuk mengajar murid-murid yang punya niatan untuk menjadi penari gandrung,’’ ujarnya.
Selama mengajar tari gandrung, Mak Temuk dikenal sebagai sosok guru yang sangat disiplin. Dia selalu memulai latihan tepat waktu.
Dia juga melarang muridnya menikah selama menjalani latihan menari.
‘’Saya mewajibkan murid yang les tari, memiliki surat dari kelurahan untuk tidak menikah dulu. Ini sebagai langkah nyata untuk melestarikan tarian gandrung. Karena berdasarkan pengalaman, banyak yang sudah les, tiba-tiba menikah dulu,’’ ujarnya.
Pada akhir tahun 1995, Temuk kedatangan tamu istimewa yakni Mbak Ubiet, seorang guru vokal Akademi Fantasi yang dihelat sebuah stasiun televisi nasional.
‘’Saat itu saya kaget sekali. Tiba-tiba disuruh menyanyi dengan suara khas gandrung. Eeh.. tidak tahunya, tamu yang saya hadapi saat itu orang penting dari Jakarta,’’ kenangnya.
Karir Temuk kian moncer setelah mendapat tawaran menyanyi lagu Hits Kangen Banyuwangi. Semua berkah itu justru didapatnya di usia yang mulai senja.
‘’Padahal saya sudah berencana akan pensiun. Namun setelah musyawarah dengan teman-teman di grup gandrung Sopo Ngiro, saya pun akhirnya setuju. Ohya, nama grup saya itu ternyata membawa berkah. Sopo ngiro, wis tuwek magih payu (Siapa sangka, sudah tua masih laku),’’ ujarnya sambil tertawa.
Temuk mengaku sempat gragi dan butuh penyesuaian ketika menggarap album Hits Kangen Banyuwangi.
‘’Saya grogi karena irama musiknya yang cepat. Soalnya, gandrung itu nadanya lambat. Tetapi setelah mengikuti latihan, saya bisa menyesuaikan hingga saat ini. Ini adalah anugerah dari Allah,’’ jelasnya.
Seiring melonjaknya karir Temuk, pendapatannya sebagai penari juga ikut meroket. Setaip kali tampil, dia rata-rata mendapat bayaran Rp 1 juta.
‘’Dengan penghasilan sebesar itu, saya bisa membeli peralatan dan menambah alat musik untuk tampil di pentas. Saya berharap, pemerintah terus melestarikan kesenian gandrung. Karena gandrung merupakan identitas dan pondasi Banyuwangi,’’ tuturnya.
Sementara itu, Temuk punya suara khas yang melengking dalam menyanyikan gending gandrung.
Suara emasnya itu membuat Etnomusikolog Kanada memberi apreasiasi luar biasa. Lembaga dari Kanada itu memberi plakat Song Before Dawn Musik Of Indonesia.
Plakat itu menandakan bahwa suara Temuk sudah didengarkan seluruh warga negeri tersebut.
Sebelumnya, suara mak Muk juga sudah direkam oleh peneliti etnomusikolog Mr Philip dari Kanada.
Rekaman itu disimpan dalam bentuk kaset yang berisi 10 lagu. Lagu yang direkam berjudul Delimoan, Condro Dewi, Jaran Dawuk, Layar Kumendung, Erang-erang subuh dan lainnya.
Saat ini. lagu gandrung tersebut tersimpan dan digunakan untuk kajian etnomusikolog di Ford Foundation Smithsnian Institution Canada.
Yang membanggakan lagi, riwayat perjalanan hidup Temuk Misti sudah muncul di majalah Time terbitan Amerika Serikat.
‘’Isun girang, koyo ketiban duren hang gedhi (Saya bahagia, seperti kejatuhan durian yang besar),’’ ujarnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin