Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejarah Nahdlatul Ulama, Organisasi Islam yang Didirikan untuk Melindungi Kebebasan Bermazhab

Ali Sodiqin • Kamis, 21 Maret 2024 | 17:24 WIB
(facebook/adib)
(facebook/adib)

RadarBanyuwangi.id – Nahdlatul Ulama atau lebih dikenal dengan NU adalah organisasi Islam yang telah memberikan kontribusi besar dalam sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia.

Saat ini, NU menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU memiliki jutaan anggota yang terdiri dari ulama, santri (murid pesantren), dan masyarakat umum.

Organisasi ini juga memiliki ribuan pesantren di seluruh Indonesia yang menjadi pusat pendidikan agama dan sosial.

NU juga memiliki peran yang signifikan dalam politik Indonesia, dengan anggota yang terpilih menjadi anggota parlemen dan terlibat dalam pembentukan kebijakan nasional.

Nahdlatul Ulama lahir pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriah bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi.

Organisasi yang dikenal dengan kultur tradisional ini didirikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah atas persetujuan sang guru Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Dilansir dari lama NU Online, hingga saat ini, yang biasa disebut sebagai pendiri NU adalah tiga kiai asal Jombang. Mereka adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

Meskipun di luar mereka masih ada sederet nama lainnya yang turut berperan di awal-awal terbentuknya NU.

Mengapa mereka bertiga? Karena mereka yang berperan banyak di awal pembentukan NU. Mereka juga pimpinan tertinggi NU waktu itu.

Kiai Asy'ari adalah pemimpin tertinggi pertama yakni rais akbar. Disusul rais aam kedua yakni Kiai Wahab dan rais aam ketiga, Kiai Bisri.

Mengapa NU didirikan? Berikut penjelasan mengenai sejarah berdirinya NU dan juga tokoh-tokoh pendirinya yang wajib kamu ketahui.

Diterangkan di laman NU Online, awal mula sejarah terbentuknya organisasi NU berangkat dari pembentukan Komite Hijaz.

Komite Hijaz merupakan perkumpulan panitia yang dibentuk KH Hasyim Asy’ari untuk dikirimkan ke Muktamar Dunia Islam.

Tujuan Komite Hijaz adalah untuk melindungi kebebasan bermazhab dari kebijakan Raja Arab Saudi tentang mazhab.

Permasalahan keagamaan Islam muncul karena Raja Arab Saudi dari Dinasti Saud ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW.

Para ulama Indonesia memandang, makam Nabi Muhammad SAW selama ini menjadi tujuan ziarah religi umat Muslim. Namun, dianggap sebagai bid’ah oleh mazhab yang dianut Raja Arab Saudi kala itu.

Selain itu, Raja Arab pun menerapkan kebijakan untuk menolak praktik mazhab dalam agama Islam. Dia ingin agar hanya mazhab Wahabi yang digunakan sebagai mazhab resmi Kerajaan Arab Saudi.

Rencana dari Raja Saud tersebut akhirnya dibawa ke Muktamar ‘Alam Islami atau Muktamar Dunia Islam.

Kebijakan tersebut tentu menjadi masalah karena ulama pesantren menganggap hal tersebut sebagai upaya memberangus tradisi dan budaya dalam Islam yang selama ini telah berkembang.

Selain itu, rencana tersebut pun dapat menjadi ancaman bagi peradaban Islam sendiri.

Saat itu, KH Abdul Wahab Chasbullah yang tergabung dalam Centraal Comite Chilafat (CCC) menyampaikan jika delegasi CCC untuk Muktamar Dunia Islam harus mampu mendesak Raja Ibnu Saud untuk memberikan kebebasan bermazhab.

Sistem mazhab yang selama ini berjalan di tanah Hijaz harus dilindungi dan dipertahankan. Hal tersebut disampaikan KH Abdul Wahab dalam Kongres Islam Keempat di Yogyakarta.

Sayangnya, diplomasi tersebut selalu berakhir dengan kekecewaan. Akhirnya, dia pun melakukan langkah strategis dengan membentuk panitia sendiri yang bernama Komite Hijaz.

Untuk menyampaikan pemikirannya di Muktamar Dunia Islam, Komite Hijaz menunjuk KH Raden Asnawi sebagai delegasinya.

Pertanyaan baru pun muncul, untuk institusi mana Raden Asnawi tersebut dikirim?

Akhirnya dengan persetujuan KH Hasyim Asy’ari sebagai guru dari KH Abdul Wahab, dibentuklah organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama atau yang saat ini dikenal dengan Nahdlatul Ulama saja pada 16 Rajab 1344 Hijriah.

Tanggal terbentuknya Nahdlatul Ulama tersebut bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi.

Hingga saat ini, yang biasa disebut sebagai pendiri NU adalah tiga kiai asal Jombang. Meski di luar mereka ada sederet nama lainnya yang turut berperan di awal-awal terbentuknya NU.

Tiga kiai asal Jombang tersebut adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri .

Mengapa mereka bertiga? Karena mereka yang berperan banyak di awal pembentukan NU. Mereka juga pimpinan tertinggi NU waktu itu.

Kiai Asy'ari adalah pemimpin tertinggi pertama yakni rais akbar. Disusul rais aam kedua yakni Kiai Wahab dan rais aam ketiga, Kiai Bisri.

Itulah sekelumit sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama, yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

NU secara organisasi berkembang pesat dan sangat terjaga. Warga NU mampu hidup berdampingan dengan berbagai kelompok organisasi Islam maupun umat agama lain di Nusantara. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pesantren #KH Abdul Wahab Hasbullah #sejarah #Mazhab #KH Hasyim Asy’ari #kh bisri syansuri #Komite Hijaz #nahdlatul ulama #nu