RadarBanyuwangi.id – Komitmen Pemkab Banyuwangi terhadap pengelolaan sampah menuai atensi dan dukungan dari pemerintah Norwegia.
Setelah diwujudkan dengan pembangunan tempat pengelolaan sampah (TPS) di Desa Balak, Kecamatan Songgon, kini Banyuwangi dipilih korporasi asal Norwegia sebagai lokasi pabrik pengolahan plastik “low value” pertama di Indonesia.
Pabrik pengolahan sampah plastik tersebut bakal dibangun oleh perusahaan asal Norwegia, yakni Inframar (Infrastructure for Marine Plastic Waste). Kapasitas pabrik tersebut direncanakan mencapai 12.500 ton per tahun.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan Chief Executive Officer (CEO) Inframar membahas rencana pendirian pabrik pengolahan plastik tersebut beberapa hari lalu.
“Pihak Norwegia senang dan terkesan dengan kerja sama yang selama ini kita jalin. Kini pemerintah Norwegia membawa salah satu korporasinya untuk membangun pabrik pengolahan sampah plastik yang bernilai rendah,” ujarnya kemarin (19/11).
Bupati Ipuk menambahkan, pabrik pengolahan plastik bernilai rendah itu bakal menjadi yang pertama di Indonesia.
“Akan sangat bermanfaat, karena plastik jenis low value itu paling sulit pengolahannya lantaran tidak bernilai jual yang ujungnya menjadi sampah tak terolah. Jadi ini sangat bermanfaat untuk kita semua,” jelasnya.
Duta Besar Kerajaan Norwegia untuk Indonesia Rut Krüger Giverin menilai selama ini Pemkab Banyuwangi sangat serius menangani sampah.
Keseriusan diwujudkan dari aspek regulasi, pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah, hingga kemitraan dengan sektor private.
Banyuwangi juga telah membangun fasilitas pengolahan sampah atau tempat pengolahan sampah reduce, reuse, dan recycle (TPS3R) sebanyak 19 unit yang tersebar di sejumlah wilayah.
Salah satunya adalah TPS3R terbesar yang berlokasi di Desa Balak, Kecamatan Songgon. TPS di Songgon tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Pemerintah Norwegia.
Sementara itu, CEO Inframar Aron Uher mengatakan, pihaknya telah mengenal Banyuwangi sebelumnya lewat proyek pemerintah Norwegia di Banyuwangi, yakni Clean Ocean Through Clean Community (CLOCC).
Aron melihat komitmen dan keseriusan pemkab yang fokus untuk mencari solusi terbaik pengelolaan sampah plastik di daerah.
“Kami merasa ada ikatan yang kuat untuk terus bekerja sama dengan Banyuwangi. Jadi saat berencana membangun pabrik pengolahan plastik low value di Asia Tenggara, kami tidak ragu memilih Banyuwangi,” ujar Aron.
Inframar adalah perusahaan pengolahan sampah plastik yang melakukan terobosan mengolah jenis plastik bernilai rendah yang selama ini paling sulit pengolahannya.
Contoh plastik bernilai rendah adalah kantong plastik dan bungkus bekas sabun atau makanan.
“Kami telah mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik terbaru. Sampah plastik low value akan diolah jadi produk setengah jadi lalu diekspor sebagai bahan mentah minyak mentah (crude oil),” ujarnya.
Plastik low value, lanjut Aron, akan dibeli dari TPS3R maupun pengepul plastik di sekitar Banyuwangi dan Bali.
Ditargetkan pembangunan pabrik akan dimulai pertengahan 2024 dan beroperasi awal 2025.
“Pada tahap awal, target kami mengolah 12.500 ton sampah plastik. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan peningkatan kapasitas produksi pabrik secara bertahap. Kami juga berkomitmen untuk merekrut sebanyak mungkin sumber daya manusia (SDM) lokal untuk mengelola pabrik,” pungkasnya. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin