RadarBanyuwangi.id – Ribuan warga Banyuwangi tumplek-blek mengikuti salat gaib untuk Palestina di Masjid Besar Al Hadi Banyuwangi, Jumat (3/11).
Mengenakan pakaian bernuansa putih, mereka mengikuti salat gaib pembacaan Hizb Nashor untuk Palestina. Hal itu dilakukan sebagai bentuk dukungan dan doa untuk umat muslim di Gaza, Palestina.
Kegiatan yang diinisiasi Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi itu berjalan khidmat. Seluruh jemaah mengikuti salat gaib dan pembacaan Hizb Nashor dengan khusyuk.
Ketua PCNU Banyuwangi KH Mohammad Ali Makki Zaini mengungkapkan, kegiatan yang dimulai pasca pelaksanakan salat Asar tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi saudara muslim di Palestina.
Pria yang karib disapa Gus Makki tersebut menuturkan, pihaknya menentang keras adanya korban, baik anak-anak maupun perempuan.
”Dalam aturan perang dalam kitab salafi di pondok pesantren (ponpes), perang itu sangat dilarang untuk mencederai anak-anak dan perempuan. Padahal, kenyataannya ribuan anak meninggal di Palestina,” ujar Gus Makki.
Kegiatan bertajuk ”Mujahadah for Palestine” tersebut diikuti oleh berbagai kalangan. Termasuk pengurus NU di berbagai tingkat kecamatan alias Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dan tingkat kabupaten (PCNU).
Ada enam MWCNU yang diwajibkan datang, yakni MWC Banyuwangi, Giri, Kabat, Licin, Glagah, dan Kalipuro.
Kegiatan tidak hanya diwarnai dengan doa bersama. Lebih dari itu, dilakukan pengumpulan donasi yang hasilnya akan dikirimkan ke Laziznu dan PBNU pusat untuk disalurkan ke Palestina.
”Kami melaksanakan imbauan dari PBNU yang mempersilakan pengurusnya melaksanakan salat gaib. Kami memang memilih Jumat agar tidak terlalu lama antara imbauan untuk kita laksanakan dan hari yang baik untuk berdoa,” kata Gus Makki.
Salat gaib dipimpin oleh Habib Muhsin Baharun. Sedangkan doa dipimpin oleh Habib Taufiq bin Syekh Abubakar yang dilanjut pembacaan Hizb Nashor oleh Kiai Abdullah Mukhtar.
”Kami berharap pemerintah melakukan berbagai cara. Tetapi persoalan Palestina tidak cukup hanya kutuk mengutuk. Perlu ada tindakan nyata bagi pemerintah dan mengambil langkah ini. Saya kira melalui politik luar negeri yang bebas aktif itulah senjata Indonesia,” tandas Gus Makki. (rei/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin