RadarBanyuwangi.id – Potensi peningkatan volume kendaraan yang menyeberang ke Lombok, NTB, diprediksi akan meningkat pada awal Oktober nanti.
Pelaksanaan event motoGP Mandalika dan percepatan pembangunan smelter menjadi salah satu daya tariknya.
Kondisi ini merangsang persaingan bisnis penyeberangan menuju NTB dari wilayah Banyuwangi.
Persaingan harga tiket kapal mulai muncul dari layanan penyeberangan di Pelabuhan Tanjung Wangi dan Pelabuhan Ketapang.
Selisih harga diterapkan oleh perusahan penyeberangan di Tanjung Wangi untuk menarik minat penumpang, terutama kendaraan logistik.
Ketua DPD Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai dan Penyeberangan (Gapasdap) I Putu Widiana mengatakan, selisih harga yang ditawarkan cukup lumayan.
Untuk truk ukuran sedang misalnya, tarif yang ditawarkan di Pelabuhan Tanjung Wangi bisa lebih murah Rp 300 ribu dibanding Pelabuhan Ketapang. Sedangkan untuk truk besar, selisih tarifnya bisa mencapai Rp 500 ribu.
Dengan jarak pelabuhan yang berdekatan antara Tanjung Wangi dengan Ketapang, selisih harga ini memberikan dampak yang signifikan kepada penumpang kapal.
Putu mengatakan, ada penurunan okupansi sampai 20 persen dari sisi Pelabuhan Ketapang akibat selisih harga tersebut.
”Sejak pertengahan September lalu, kita lihat ada perubahan harga yang cukup signifikan,” kata Putu.
Persaingan harga menurutnya sah-sah saja dalam bisnis. Namun, yang terpenting perusahaan kapal tidak melupakan standar keselamatan pelayaran.
Jangan sampai penurunan harga memengaruhi kualitas pelayanan keselamatan dan perawatan kapal yang nantinya justru merugikan penumpang.
”Menurut kami sah-sah saja. Perusahaan kapal di Tanjung Wangi bisa menyesuaikan tarif sesuai kebutuhan mereka, tidak seperti yang di Ketapang karena harus menunggu keputusan menteri dulu,” jelasnya.
Kasi Lalu Lintas KSOP Tanjung Wangi Budi Sanjoyo menambahkan, sejak awal September Pelabuhan Tanjung Wangi kembali mengoperasikan tiga kapal LDF tujuan Gili Mas NTB.
Sebelumnya, kapal yang beroperasi memang sempat berkurang karena adanya perbaikan. Pernah dalam sehari hanya beroperasi dua hingga satu kapal saja.
Kondisi tersebut sempat menimbulkan antrean kendaraan logistik di pinggir jalan menuju Tanjung Wangi selama berhari-hari.
”Sejak awal September PT ALP sudah mengoperasikan tiga kapal lagi, Mutiara Barat, Mutiara Sentosa, dan Mutiara Persada. Terkait pengawasan keselamatan pasti tetap dilakukan,” tegas Budi. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin