RadarBanyuwangi.id – Polemik terkait blue fire (api biru) di Kawah Ijen masih belum menemui titik temu.
Penambang beralasan menyiramkan air ke area blue fire demi produksi belerang. Sementara, pelaku wisata menghendaki api biru harus tetap menyala untuk menjual keelokan Ijen kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Untuk mencari solusi seputar blue fire, Senin lalu (4/9) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar pertemuan yang menghadirkan perwakilan dari PT Candi Ngrimbi selaku pengepul belerang, BKSDA, dan pelaku wisata.
Pertemuan tersebut untuk meningkatkan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ijen. Pertemuan dilaksanakan di lounge kantor Disbudpar, Jalan Ahmad Yani.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Kasi Konservasi Wilayah V BKSDA Banyuwangi TWA Kawah Ijen, camat Licin, kades Tamansari, GM Unesco Global Geopark Ijen, dan direktur Candi Ngrimbi.
Dari pelaku wisata, hadir ketua Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Banyuwangi, ATTAB, HPI, HPKWI, Perhimpunan Rumah Inap (PRI), Ijen Tourism Cluster (ITC), Asosiasi Penambang Belerang Kawah Ijen, dan Asosiasi Pengemudi Jeep Wisata Ijen.
Pertemuan tersebut belum menghasilkan jawaban pasti. Namun, beberapa opsi telah diajukan oleh masing-masing unsur yang hadir.
Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Ainur Rofiq mengatakan, isu yang beredar terkait adanya penyiraman api biru sebenarnya hanya kesalahpahaman.
Pasalnya, setelah mendengar penjelasan dari pihak PT Candi Ngrimbi, penyiraman api biru tidak semata-mata untuk menghilangkan api yang menjadi ikon dari TWA Ijen.
Penyiraman api biru tersebut terkait kepentingan lain, yakni stok belerang yang masih cukup banyak di sekitar kawah.
Sebanyak 60 ton belerang menjadi alasan penyiraman air. Nyala api biru disiram sebagai opsi agar sisa belerang milik PT Candi Ngrimbi tidak terbakar dan dapat diselamatkan.
”Candi Ngrimbi tengah berusaha untuk mengangkut belerang, namun saat ini masih terkendala sumber daya manusia (SDM) lantaran jumlah penambang belerang terus berkurang,” papar Rofiq didampingi Sekretaris Disbudpar Choliqul Ridha.
Meski belum ada keputusan yang pasti, dari pertemuan tersebut telah didapatkan beberapa opsi atau jalan tengah yang akan dikoordinasikan kepada para pimpinan.
Dua opsi tersebut diberikan dengan memperhitungkan jangka panjang dan pendek. Solusi jangka panjang yang disepakati yakni menghidupkan kembali titik api lain yang dapat memancarkan api biru.
Namun, opsi tersebut masih dalam proses pertimbangan. Sebab, lahan yang dimaksud masih tertutup timbunan pasir dan faktor alam lainnya.
Kalau membuka titik baru, diperlukan biaya yang cukup besar. ”Perlu ada pipa untuk menyalurkan gas panas bumi untuk memercikkan api biru. Semua perlu bujet yang tidak sedikit,” kata dia.
Rofiq menjelaskan, upaya untuk menghidupkan api biru di titik lain memang tidak mudah dan murah. Namun, harapannya opsi tersebut bisa terlaksana tanpa mengganggu aktivitas produksi belerang PT Candi Ngrimbi.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, diperlukan pemasangan pipa khusus, kurang lebih butuh 25 pipa. Harganya cukup mahal, mencapai Rp 3 juta untuk ukuran 50 sentimeter.
”Masing-masing pihak akan mengusulkan hasil rapat tersebut kepada pimpinannya masing-masing untuk menemukan solusi. Kami sangat beryukur misalkan dapat support dari daerah,” tutur Rofiq.
Sedangkan opsi jangka pendek, lanjut Rofiq, belerang yang tertimbun harus segera diangkat sehingga tidak merugikan PT Candi Ngrimbi.
Para pelaku wisata akan diminta untuk membawa belerang menuju tempat penimbunan di Paltuding sebanyak 2 sampai 5 kilogram.
”Aspirasi ini sempat disampaikan oleh audiens. Namun, juga banya kajian yang diperlukan,” jelasnya.
Kepala Pos TWA Ijen Sigit Haribowo mengungkapkan, masih banyak penumpukan material belerang yang terjadi di dekat solfatara.
Kalau tidak dipadamkan, dikhawatirkan api membakar tumpukan belerang. Rembetan api biru yang muncul dapat membakar seluruh stok belerang.
”Kami dari BKSDA terutama dalam kegiatan ini, sama-sama saling mencari solusi untuk mengeluarkan stok belerang di dasar kawah. Tujuannya untuk sama-sama saling menguntungkan. Selain objek wisata bisa terselamatkan, PT Candi Ngrimbi juga tidak semakin merugi banyak,” kata Sigit.
Koordinator PT Candi Ngrimbi Bambang Heri Purwanto berharap, pertemuan tersebut bisa menghasilkan solusi yang saling menguntungkan.
Menurutnya, penyiraman api yang selama ini diberitakan bukan semata-mata untuk mematikan destinasi yang menjadi tujuan pengunjung.
Di sisi lain, pihaknya harus menyelamatkan material belerang yang masih tertimbun.
”Sebelumnya kami sudah memberikan satu titik untuk dikelola, namun tidak ada respons dari pemerintah. Alhasil kami ambil alih lagi. Ke depan akan ada pangajuan untuk bisa diperbaiki. Timbunan pasir pada titik tersebut cukup banyak dan butuh pemasangan pipa yang tidak sedikit,’’ tandas Bambang Heri. (tar/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin