RadarBanyuwangi.id – Pendakian puncak Ijen yang dimajukan pukul 02.00 bukan jaminan untuk bisa menyaksikan fenomena blue fire (api biru).
Belakangan, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara, mengaku kecewa. Sebab, mereka tak bisa melihat fenomena api biru yang terkenal di dunia itu.
Kekecewaan wisatawan tersebut disampaikan kepada pemandu wisata maupun relawan Ijen. Jika persoalan ini tidak segera tertangani, dikhawatirkan pengunjung Ijen bisa berkurang gara-gara tak bisa melihat blue fire.
Penyebabnya, beberapa titik api blue fire yang muncul di dekat jaringan pipa belerang dipadamkan oleh petugas pengambil belerang.
”Blue fire tak bisa dilihat karena nyala apinya disiram air oleh para penambang belerang. Wisatawan banyak yang mengeluh kepada kami,” ujar Herman, relawan Ijen.
Lebih jauh warga Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung itu mengungkapkan, tidak terlihatnya api biru berdampak terhadap pelaku wisata, terutama agen tour and travel.
”Seharusnya ada forum yang menjembatani antara pemerintah daerah, BKSDA, PT Candi Ngrimbi, dan pelaku wisata untuk mencari solusi bersama. Kami relawan sering mendapat komplain dari wisatawan,” kata Herman yang sudah bertahun-tahun menjadi relawan Ijen.
Salah seorang pelaku wisata, Arief mengaku prihatin gara-gara wisatawan tidak bisa melihat blue fire. Arief khawatir jika persoalan ini tidak segera dicarikan solusinya bisa menjadi blunder bagi sektor pariwisata di Banyuwangi.
”Meskipun pendakian Ijen telah dibuka pukul 02.00, blue fire tetap tidak bisa dinikmati dengan berbagai masalah dan argumentasinya,” ujar pemilik travel wisata Arief Arjuno Tour tersebut.
Kepala Pos Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Sigit Haribowo mengaku tidak memahami kenapa blue fire dipadamkan oleh petugas dari perusahaan belerang (PT Candi Ngrimbi).
Saat persoalan ini ditanyakan, petugas hanya menjawab untuk meningkatkan produksi belerang. Padahal jumlah produksi belerang selama ini tetap stabil.
”Mungkin bisa ditanyakan langsung ke PT Candi Ngrimbi. Ketika kami tanya jawabannya untuk meningkatkan produksi belerang,” kata Sigit.
Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, blue fire muncul di dekat pipa-pipa produksi belerang. Di area kawah ada sekitar 70 pipa dapur belerang.
Pipa-pipa tersebut tempat produksi belerang yang digunakan oleh PT Candi Ngrimbi. Api yang muncul dari pipa tersebut kerap dipadamkan oleh petugas belerang saat mereka hendak mengambil belerang. Dampaknya, blue fire tak bisa dilihat.
Bagian Administrasi dan Keuangan PT Candi Ngrimbi Virga Pradana mengatakan, pihaknya sempat dianggap sengaja mematikan blue fire. Padahal menurutnya hal tersebut dilakukan agar produksi belerang tetap berjalan.
Virga menjelaskan, produksi belerang berasal dari pipa yang menyalurkan gas belerang. Agar bisa menyublim menjadi cairan belerang, ujung pipa harus bersuhu minimal 200 derajat Celsius.
Nah, gas belerang sendiri memiliki suhu 600 derajat Celsius. Saat tiba di ujung pipa biasanya suhu belerang masih di kisaran 300 sampai 400 derajat Celsius.
”Kami dinginkan supaya belerangnya bisa diambil dengan menyiram menggunakan air tawar yang memang kami sediakan di sana agar suhunya sampai 200 derajat,” jelas Virga.
Ujung pipa yang masih bersuhu 300 sampai 400 derajat Celsius mengakibatkan powder belerang terbakar hingga memunculkan blue fire.
”Api yang muncul di pipa-pipa kami padamkan agar tidak mengganggu proses sublimasi. Kalau dibiarkan kita (PT Candi Ngrimbi) bisa rugi karena mengganggu produksi belerang,” jelasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin