RadarBanyuwangi.id – Kampung Pancasila di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, mendapatkan apresiasi dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Dudung Abdurachman saat berkunjung ke Banyuwangi.
”Ini suatu tempat yang memang saya lihat berbeda-beda agama dan suku, tapi sangat rukun,” ujar Jenderal Dudung saat mengunjungi Kampung Pancasila di Desa Patoman siang kemarin (23/8).
Jenderal Dudung datang ke kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini dengan didampingi sang istri serta jajaran pejabat tinggi TNI AD. Kedatangan Dudung disambut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Bandara Internasional Banyuwangi.
Begitu turun dari atas pesawat, rombongan Kasad langsung menuju Kampung Pancasila di Desa Patoman yang lokasinya lima menit perjalanan dari Bandara Banyuwangi. Sesampainya di Kampung Pancasila, jenderal bintang empat itu disambut tarian gandrung.
Sembari berjalan menuju lokasi acara, rombongan diiringi penari gandrung. Begitu tiba di gerbang kampung langsung disambut musik bale ganjur lengkap dengan tarian khas Bali. Dudung juga mendapatkan untaian bunga.
Desa Patoman dikenal dengan keberagamannya. Desa tersebut dihuni oleh sekitar 5 ribu penduduk dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Mereka berasal dari suku Oseng, Jawa, Madura, dan Bali. Agama yang mereka anut beragam.
Ada yang memeluk Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu. Meski dengan latar belakang yang berbeda-beda, warga hidup berdampingan selama puluhan tahun.
Menurut Dudung, keberagaman dan perbedaan akan menjadi suatu hal yang indah jika dibalut dengan persatuan dan kesatuan rasa saling tolong-menolong serta gotong royong.
”Kerukunan yang ada di Kampung Pancasila Desa Patoman akan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Banyuwangi dan Indonesia,” jelas mantan Pangkostrad tersebut.
Berada di Kampung Pancasila, Dudung mengenang saat masih menjabat sebagai Pangdam Jaya tahun 2020–2021. Saat itu, dia mencanangkan penerapan Kampung Pancasila di wilayahnya.
”Ketika menjadi Kasad, saya sosialisasikan ke seluruh jajaran agar di wilayahnya harus ada Kampung Pancasila,” terangnya.
Kerukunan antarwarga negara, lanjut Dudung, perlu dipupuk karena bangsa Indonesia merdeka atas kebersamaan dan rasa persatuan yang dilakukan oleh semua golongan, suku, dan agama. Bukan dari satu golongan, kelompok, atau organisasi tertentu. Semua ikut berjuang.
”Fondasinya Pancasila, tiangnya NKRI. Ini harus dipegang teguh. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mencoba memecah-belah persatuan dan kesatuan. Jangan terprovokasi kelompok yang mengaku paling benar,” tandas Dudung.
Kepala Desa Patoman Suwito menjelaskan, Kampung Pancasila dihuni oleh warga dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Namun masyarakat hidup tenang, damai, dan kondusif.
”Ada anak-anak tiba saatnya berangkat mengaji, sang kakek yang beragam Hindu rela mengantar. Semuanya hidup berdampingan rukun dan damai,” ucap Suwito.
Warga Patoman juga saling membantu saat ada acara keagamaan yang digelar. Dia mencontohkan, saat warga muslim merayakan Idul Fitri dan menggelar pengajian, umat Hindu turut menjaga keamanan di desa.
Sebaliknya, saat warga Hindu menggelar kegiatan seperti ogoh-ogoh, warga muslim ikut menjaga. Begitupun dengan warga dari agama lain. ”Saat Idul Adha, warga Hindu ikut membantu proses penyembelihan kambing,” kata Suwito.
Menurut Suwito, apa yang dilakukan warga Desa Patoman merupakan cerminan dari pelaksanaan sila-sila dalam Pancasila. Sehingga, tidak berlebihan apabila desa ini diberi predikat sebagai Desa Kebangsaan dan Kampung Pancasila.
”Kami berterima kasih Kasad Jenderal Dudung mau berkunjung ke desa kami. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatiannya kepada masyarakat. Kunjungan ini juga membuat kami termotivasi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” pungkas Suwito.
Rombongan Kasad Jenderal Dudung berada di Banyuwangi hingga Kamis hari ini (23/8). Selain mengunjungi Kampung Pancasila, rombongan juga mengunjungi Ponpes Mabadiul Ihsan di Desa Karangdoro, Tegalsari dan Masjid Cheng Ho di Banyuwangi.
Hari ini Jenderal Dudung dijadwalkan mengunjungi Asrama Inggrisan yang masuk dalam cagar budaya. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin