RadarBanyuwangi.id – Usai terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar membuat terobosan. Kiai yang akrab disapa Gus War itu mengajak umat Islam melakukan jihad melawan kebodohan dan kemiskinan.
“Harus kita akui di Indonesia masih banyak masyarakat miskin, masih banyak stunting. Kita harus jihad melawan ini semua. Bukan jihad dengan senjata tapi memakai ilmu,” kata Gus War seperti dilansir dari Jawa Pos Radar Kediri.
Menurut Pengasuh Ponpes Al-Amien Ngasinan, Rejomulyo, Kota Kediri, itu kebodohan dan kemiskinan harus dijadikan musuh bersama. Sebab, kata Gus War, jika dua masalah mendasar itu tidak teratasi, maka ancaman perpecahan di Indonesia akan terus menghantui.
Gus War juga menyinggung tugas MUI saat ini amat berat. Apalagi memasuki tahun politik seperti saat ini. MUI yang menaungi lebih dari 30 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam itu harus menjaga persatuan umat.
“Struktur MUI sampai yang terbawah harus bisa jadi motor untuk menjaga persatuan bangsa,” terang kiai kelahiran Muncar, Banyuwangi, ini.
Gus War juga menyinggung masalah LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) dan pergaulan bebas, hingga kasus-kasus kekerasan. “Hal-hal yang merusak akhlak ini harus diatasi bersama,” tegasnya saat dihubungi via ponselnya.
Sekedar diketahui, KH Anwar Iskandar menjabat Ketum MUI menggantikan KH Miftachul Akhyar yang mundur.
Gus War terpilih sebagai Ketum MUI berdasar hasil rapat pleno Selasa (15/8) di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.
Masa khidmat KH Anwar Iskandar nantinya meneruskan masa sisa jabatan KH Miftachul Akhyar sampai Muyawarah Nasional (Munas) MUI tahun 2025 mendatang.
Wakil Rais Aam PBNU periode 2022-2027 ini lahir pada 24 April 1950 di Berasan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.
Saat ini, Gus War lebih banyak tinggal di Kediri. Ada dua pondok pesantren (ponpes) yang diasuhnya. Yaitu Ponpes Al-Amien Ngasinan, Rejomulyo, Kota Kediri; dan Ponpes Assa’idiyah Jamsaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur. (als)
Editor : Ali Sodiqin