Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Empat Desain Baru Batu Bata Dipamerkan di Gedung Juang, Semuanya Karya Perajin Sekolah Boto

Dedy Jumhardiyanto • Rabu, 12 Juli 2023 | 15:00 WIB
MIRIP ATAP JAWA: Bata Parengan berbentuk trapesium. Ada sisi yang menonjol, ada sisi yang agak berlubang.
MIRIP ATAP JAWA: Bata Parengan berbentuk trapesium. Ada sisi yang menonjol, ada sisi yang agak berlubang.

RadarBanyuwangi.id – Program Sekolah Boto menghasilkan empat jenis desain baru batu bata. Ini bisa menjadi inspirasi dan ide inovatif untuk tujuan pengembangan komersial.

Dengan bentuk dan rupa baru, material tersebut membuka peluang bagi perajin untuk membidik pasar lebih luas.

Batu bata merah hasil karya perajin Sekolah Boto itu dipamerkan di Gedung Juang 45 Banyuwangi dalam pameran Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2023.

MIRIP SUMUR: Boto Anyam berbentuk hampir setengah lingkaran.
MIRIP SUMUR: Boto Anyam berbentuk hampir setengah lingkaran.

 

Ada empat batu bata inovasi baru yakni Bata Parengan yang berbentuk trapesium, Bata Kartelu Seto berbentuk angka 8, Suryo Boto dalam bentuk jajar genjang, dan Boto Anyam.

Sekretaris Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Jawa Timur Ar. Fafan Tri Afandy mengatakan, empat karya baru batu bata merah dalam pameran tersebut merupakan inovasi baru.

Inovasi itu diperoleh dari hasil workshop yang memiliki tujuan yang sama seperti workshop genting, yakni mengeksplorasi teknologi dan metode pembuatan bata tradisional yang sudah mengakar sejak zaman Kerajaan Majapahit.

NYENI: Boto Kartelu Seto berbentuk angka delapan dengan dua lubang kecil.
NYENI: Boto Kartelu Seto berbentuk angka delapan dengan dua lubang kecil.

 

”Mengingat selama ini desain bata terbatas pada satu bentuk kotak, dan mulai tergerus oleh material penyusun dinding lain yang lebih modern. Maka, kami mencoba mengeksplorasi desain yang mungkin dapat dikembangkan meningkatkan nilai bata itu sendiri,” jelas Fafan.

Dengan terciptanya bentuk baru dari bata tersebut, bisa menjadi peluang untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Khususnya, para perajin batu bata merah untuk membuat desain inovasi terbaru dari bentuk batu bata.

KETUPAT: Suryo Boto merupakan batu bata berbentuk jajaran genjang.
KETUPAT: Suryo Boto merupakan batu bata berbentuk jajaran genjang.

Program workshop Sekolah Boto, kata Fafan, merupakan hasil kolaborasi antara Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama Pemkab Mojokerto yang diselenggarakan pada 5–22 Desember 2022 lalu.

Lokasinya di tempat perajin batu bata merah yang berlokasi di Desa Sumbertanggul, Desa Menanggal, Kecamatan Mojosari, dan satu lokasi lagi di Desa Mojotamping, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

”Dengan terciptanya hasil karya baru dari batu bata merah tersebut, tidak sekadar menjadi karya-karya yang indah. Akan tetapi bisa memberikan efek pada peningkatan ekonomi para perajin batu bata merah yang semakin nyata,” tandas Fafan. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#gedung juang #batu bata #sekolah #kolaborasi #boto #Festival Arsitektur Nusantara #Untag