RadarBanyuwangi.id – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan Universitas Kristen Petra Surabaya.
Mereka ikut memberikan sumbangsih dalam pameran Festival Arsitektur Nusantara 2023 di Gedung Juang 45 Banyuwangi. Salah satunya dengan membuat seni instalasi Genteng Nglayur.
Genteng Nglayur adalah nama industri genting yang ada di Kabupaten Trenggalek. Sehingga nama instalasinya diberi nama Nglayur.
”Karya instalasi Genteng Nglayur ini merupakan hasil kegiatan workshop, seminar, dan pameran yang melibatkan pelaku industri genting, praktisi, dan mahasiswa arsitektur di Desa Sukorejo, Kecamatan Handuari, Kabupaten Trenggalek, awal Juni 2023 lalu,” jelas Sekretaris Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur Ar. Fafan Tri Afandy.
Khusus untuk pameran instalasi Genteng Nglayur, IAI Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan Universitas Kristen Petra Surabaya untuk mengeksplorasi potensi dan teknologi terakota.
Khususnya Genteng Nglayur dari Kabupaten Trenggalek melalui Workshop ”Telusur Teknologi Genteng Terakota Tradisional”.
Kegiatan workshop itu diikuti oleh mahasiswa UK Petra dengan Mentor dari IAI Provinsi Jawa Timur Ar. Hermawan Dasmanto.
Tujuan dari workshop itu tak lain untuk melakukan telusur dan mempelajari teknologi yang digunakan oleh masyarakat Trenggalek dalam membuat genting.
”Harapannya akan menemukan potensi lebih dari Genteng Nglayur untuk meningkatkan nilai ekonomi genting. Tentunya nantinya akan berdampak pada ekonomi masyarakat Kabupaten Trenggalek, khususnya pelaku industri genting,” jelas Fafan.
Dari hasil workshop itu, secara bertahap pihaknya akan mencoba mengulik kekayaan genting terakota Nglayur Trenggalek.
Sebab, terakota pada masa klasik dapat menggambarkan bahwa pembuatan benda-benda tanah liat mencapai puncaknya.
Terakota masa klasik memiliki bentuk dan fungsi yang beraneka ragam. Selain itu, masyarakatnya telah mengenal teknologi dan mengolah alam dengan baik sehingga menghasilkan karya yang memiliki estetika.
Namun, pada zaman sekarang hampir sebagian benda terakota tersebut tidak lagi diproduksi dan tergantikan oleh bahan lainnya.
Melalui pameran instalasi tersebut, imbuh Fafan, pihaknya ingin menyampaikan pesan bahwa pada masa lampau nenek moyang kita telah memberikan contoh dan pemanfaatan tanah liat sebagai bahan baku pembuatan terakota dan berkembang sedemikian mencolok, dengan tingginya keanekaragaman karyanya.
”Selain itu, instalasi itu juga ingin menunjukkan sedikit potensi genting dalam hal pemasangan dan ekspresi dan tektonika,” pungkasnya. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin