RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi akhirnya menjadi panduan dalam bidang arsitektur bandara.
Belasan bandara perintis di Indonesia dipamerkan maket bangunannya dalam Festival Arsitektur Nusantara (FAN) 2023 di Gedung Juang 45 Banyuwangi.
Salah satu maket desain bangunan bandara yang menarik perhatian adalah Bandara Sibisa Toba di Sumatra Utara.
Bangunan bandara ini menarik karena dibangun di atas lahan yang relatif kecil. Bayangkan, luasnya hanya 2.610 meter persegi.
Padahal, bandara ini termasuk dalam proyek strategis pemerintah pusat. Tujuannya, untuk membangun konektivitas di daerah terpencil di Indonesia, khususnya Kabupaten Toba.
Pertimbangan diberikan pada prinsip-prinsip desain bandara yang selaras dengan konteks geografis, budaya lokal, ketersediaan bahan, dan konstruksi hemat energi.
Hal ini memastikan kemampuan adaptasi bandara perintis untuk potensi implementasi di berbagai wilayah, menjadikannya rujukan multiguna untuk desain bandara lainnya.
Bentuk atap Bandara Sibisa Toba tersebut terinspirasi dari atap rumah tradisional Toba, yang diadaptasi untuk mengakomodasi zona kedatangan dan keberangkatan bandara.
Pemisahan antara area kedatangan dan keberangkatan di bandara ini dicapai melalui pembagian diagonal pada denah.
Pendekatan ini juga tecermin dalam desain atap, yang terbagi secara diagonal dan memiliki saluran air yang mengalir di tengahnya.
Atap yang terpisah tersebut memberikan dua tampilan dan susunan lantai yang berkebalikan jika dilihat dari sisi udara dan sisi darat.
Untuk merespons iklim perbukitan yang relatif sejuk, bandara ini dirancang dengan menggunakan selubung bangunan berpori guna mengurangi ketergantungan pada sistem ventilasi dan pendingin buatan. (tar/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin