RadarBanyuwangi.id – Bagaimana wujud desain bandara perintis di wilayah kepulauan? Salah satu contoh desain bandara yang dipamerkan di Festival Arsitektur Nusantara (FAN ) 2023 adalah desain Bandara Regional Maratua.
Kepulauan Maratua berada di Kalimantan Timur (Kaltim). Posisi kepulauan seperti itu sangat membutuhkan keberadaan bandara.
Karena itu, rancangan desain bangunan bandara Kepulauan Maratua diposisikan terletak berdekatan dengan garis pantai.
Bandara Maratua akan dirancang sebagai infrastruktur yang dapat membaur dengan situasi alam di sekitarnya.
Sedangkan desain bandara itu terwujud sebagai representasi arsitektur vernakular Kalimantan Timur yang kaya.
Setidaknya, desain bangunan bandara tersebut merayakan tiga bentuk kebudayaan etnis di saat yang bersamaan, seperti Dayak, Kutai, dan Bajau.
Skema bangunan tersebut dibuat dengan acuan diagramatik rumah Baboroh. Yaitu, bangunan sederhana khas etnis Bajau yang dibangun di atas permukaan air, dengan kolom penopang berbentuk tiang-tiang kayu.
Keseluruhan bandara dibuat layaknya konfigurasi panggung di atas air yang saling terhubung oleh keberadaan ruang-ruang jembatan atau dermaga.
Pengguna dapat berteduh, menyeberang, atau turun mendekat ke permukaan air di antara rangkaian pengalaman ruang Bandara Maratua.
Sementara itu, ornamentasi dari artefak-artefak Dayak dan Kutai hadir sebagai konstruksi semiotik.
Ini dapat menginformasikan nilai-nilai kebudayaan lokal kepada pengguna bandara nantinya. Sedangkan diagram rumah Baboroh bekerja untuk mendukung kinerja fisika bangunan bandara.
Ornamen bangunan yang abstrak sengaja dihadirkan untuk menyentuh aspek non-praktis dan menjadi narasi tersendiri bagi pengguna bandara.
Panitia FAN 2023, Meylia Maharani mengatakan, pihaknya menyajikan desain-desain belasan bandara itu dari hasil Lokakarya Desain Bandara Perintis.
Lokakarya tersebut mempertemukan 12 firma arsitektur dari berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk di antaranya perwakilan arsitek dari daerah Sumatra, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.
”Lokakarya arsitektur tersebut bertujuan untuk mengeksplorasi kemungkinan baru perancangan arsitektur bandara di Indonesia, dengan menugaskan 12 biro arsitektur terpilih untuk merancang bandara di berbagai lokasi di seluruh Nusantara,” jelas Meylia. (tar/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin