RadarBanyuwangi.id – Dampak antrean panjang masuk Pelabuhan Ketapang dirasakan para penumpang kapal.
Tak hanya kendaraan logistik yang mengalami kendala waktu pengiriman, beberapa wisatawan kehilangan jam check-in akibat antre berjam-jam di Banyuwangi.
Mukhtar, 5 2, salah seorang wisatawan asal Tasikmalaya mengaku sudah memesan hotel di Denpasar untuk liburan.
Sesuai jadwal, seharusnya dia masuk ke hotel pada Rabu malam (5/7) pukul 23.00. Namun, hingga Kamis siang (6/7), Mukhtar masih berada di Pelabuhan Ketapang.
”Macetnya mulai dari Situbondo sudah terasa. Masuk Banyuwangi baru jam 3 pagi, jam 8 baru masuk pelabuhan. Jam 11 siang belum masuk kapal,” ungkapnya.
Kondisi serupa dirasakan Dava, 28, wisatawan asal Surabaya. Pukul 01.00 dini hari, bus yang dia tumpangi sudah masuk ke area Desa Bangsring.
Baru pukul 11.00, bus sampai di pintu masuk Pelabuhan Ketapang. Karena tak sabar, Dava memilih berjalan kaki dan membeli tiket kapal untuk pejalan kaki.
”Jadwalnya pagi sudah sampai Bali, tapi masih tertahan di pelabuhan,” kata Dava.
Budi Utomo, 43, salah satu driver kendaraan pengangkut kerupuk menceritakan, butuh waktu 10 jam dari Desa Bangsring untuk sampai ke Ketapang.
Pria asal Probolinggo itu khawatir antrean panjang ini bisa merusak kualitas barang yang dibawanya. Apalagi, kerupuk yang dibawa sudah dalam kondisi matang.
”Kalau lama kena panas rusak juga, dari Bangsring jam 01.00 malam, jam 11.00 masih antre di pelabuhan,” ungkapnya.
Meski terjebak macet selama berjam-jam, penumpang kapal tak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Sebab, dari sisi pelabuhan, muatan kapal sudah sesak dengan penumpang.
Korsatpel BPTD Ketapang Rocky Surentu mengatakan, pihaknya berupaya melakukan skala prioritas untuk memilah antara kendaraan roda empat pribadi dengan truk besar.
Bagaimana caranya agar kendaraan roda empat tidak ikut terjebak dalam antrean bersama truk.
Saat masuk ke pelabuhan, kendaraan roda empat bisa langsung masuk ke dermaga MB, sedangkan truk masuk ke LCM.
”Kami koordinasi dengan Satlantas agar kendaraan roda empat tidak terjebak dengan truk. Di pelabuhan kami yang menata,” kata Rocky.
Dia menambahkan, durasi penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk saat ini bisa mencapai empat jam lamanya.
Mulai dari loket masuk sampai tiba di Pelabuhan Gilimanuk, rata-rata penumpang kapal butuh waktu sampai empat jam.
”Di atas kapal juga tidak bisa cepat. Karena itu, penataan kami kembalikan seperti semula. Bongkar muat tetap dipercepat tapi jadwalnya kita sesuaikan sesuai time table,” kata Rocky.
Kemacetan tidak hanya terjadi di Ketapang. Di sisi Gilimanuk, kemacetan juga terjadi. Penataan jadwal kapal akan dikembalikan sesuai dengan pola delapan trip agar antrean tidak semakin panjang.
”Di Ketapang kita menerapkan bongkar muat terisi langsung jalan. Tapi di Gilimanuk tidak, akhirnya terjadi antrean kapal untuk masuk ke dermaga,” ujarnya.
Dengan pola normal, Rocky berharap arus lalu lintas kapal bisa lebih lancar sehingga angkutan kendaraan di pelabuhan juga bisa lebih cepat.
Dia memprediksi lonjakan penumpang masih akan tetap terjadi hingga beberapa hari ke depan. Perubahan pola normal diharapkan bisa menjadi solusi kemacetan.
”Jumlah kapal tetap 33 unit. Sistem yang kemarin tidak efektif, kapal mengapung sampai dua jam. Karena itu, kami coba kembalikan sesuai jadwal,” tandasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin