RADAR BANYUWANGI – Kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) di Banyuwangi masih belum terpecahkan hingga Rabu (14/6). Hampir setiap hari warga masih kesulitan mendapatkan tabung elpiji melon tersebut.
Langkanya gas elpiji ini dikeluhkan pemilik warung kecil. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pasokan gas elpiji bersubsidi karena para sub pangkalan mulai membatasi pembelian.
Desi Puspitasari, 30, salah seorang pemilik warung nasi di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, mengaku beberapa kali berpindah tempat untuk mendapatkan elpiji. Menurutnya, banyak sub pangkalan dan warung yang kehabisan stok elpiji melon. Dia akhirnya menemukan salah satu warung yang masih memiliki stok elpiji, namun dengan syarat harus menyerahkan fotokopi KTP.
Desi tidak diperbolehkan membeli gas alpiji lebih dari satu tabung. Sub pangkalan beralasan stok yang mereka terima juga berkurang. ”Biasanya saya beli dua tabung, yang satu buat cadangan kalau sewaktu-waktu habis. Beli dua tidak bisa karena dibatasi oleh penjual gas,” ujar ibu dua anak itu.
Kelangkaan gas elpiji bersubsidi di beberapa wilayah menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Hingga Rabu (14/6), Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkop-UMP) Banyuwangi bersama Pertamina masih berusaha mencari penyebab langkanya tabung gas ukuran melon tersebut.
Kepala Dinkop-UMP Nanin Oktaviantie mengatakan, untuk mengatasi kelangkaan elpiji, pihaknya sudah menemui Sales Branch Manager Pertamina Wilayah Banyuwangi. Namun, dari penjelasan Pertamina, tidak ada pengurangan kuota maupun jatah distribusi untuk agen-agen di Banyuwangi. Kuota yang diberikan masih sama dengan tahun 2022 lalu.
Nanin menambahkan, ada beberapa prediksi yang membuat gas elpiji ukuran 3 kg langka di pasaran. Sesuai dengan analisis dari Pertamina, ada peningkatan konsumsi yang cukup tinggi dari masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha. Peningkatan itu berdampak terhadap stok elpiji melon di lapangan berkurang.
Selain itu, kata Nanin, adanya kebijakan baru terkait jatah untuk agen yang mengakibatkan penataan di lapangan berubah. Meski kebijakan tersebut dikatakan Pertamina belum diberlakukan, di lapangan sudah terjadi. Banyak agen elpiji yang mendirikan tempat baru agar tetap bisa mendapatkan jatah elpiji yang cukup.
”Ada kebijakan baru dari pusat. Jatah untuk agen dikurangi separo. Pertamina menyebutkan belum diberlakukan, tapi di lapangan sudah. Akhirnya banyak agen yang membuat bendera baru agar tetap mendapat jatah yang sama,” imbuhnya.
Nanin mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yakni menyiapkan permohonan tambahan kuota elpiji jika nanti dibutuhkan. Permohonan tersebut sudah disampaikan ke Pertamina. Untuk realisasinya, menunggu penghitungan yang dilakukan oleh Pertamina terkait kelangkaan elpiji 3 kg di lapangan.
”Kami sudah siapkan untuk pengajuan kuota tambahan, tapi Pertamina mau melakukan pengecekan dulu di lapangan,” jelasnya.
Pekan depan, Dinkop berencana melakukan operasi pasar bersama Bulog dan Pertamina. Operasi tersebut tidak hanya menjual beras dan minyak goreng, tapi juga elpiji ukuran 3 kg. ”Kita meminta Pertamina untuk menyediakan elpiji sekaligus kita cari bersama-sama penyebab kelangkaan gas elpiji di lapangan,” tegasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin