BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berlokasi di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, terus berjalan. Bulan lalu, tim dari PLN pusat sudah melakukan diskusi publik terkait rencana pembangunan PLTS tersebut.
Asisten Manajer Keamanan dan Humas PT PLN Indonesia Power Grati Huta Rianto mengatakan, masih banyak tahapan yang harus dilakukan sebelum PLTS terealisasi. Proyek tersebut merupakan konsep dari PLN pusat untuk mendukung program Presiden Jokowi tentang energi baru terbarukan (EBT) atau renewable energy.
”Rencana pembangunan sesuai dengan program Presiden Jokowi untuk melakukan pengurangan emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil,” kata Huta.
Pembangunan PLTS di Banyuwangi akan menjadi yang pertama dilakukan di Jawa Timur. Kehadiran PLTS akan menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu kawasan yang mendorong pembangunan pembangkit listrik EBT.
Terkait pertimbangan pembangunan PLTS di Banyuwangi, kata Huta, sudah menjadi kajian dari tim PLN pusat. Kemungkinan energi panas matahari yang jatuh di lahan seluas 163,46 hektare di wilayah Kalipuro cukup bagus sehingga dianggap layak sebagai tempat berdirinya PLTS.
”Nantinya, PLTS di Banyuwangi akan menghasilkan listrik dengan kapasits 100 megawatt. Step-nya masih panjang, salah satunya terkait perizinan Amdal,” tegas Huta.
Sekkab Banyuwangi Mujiono mengatakan, sampai saat ini rencana proyek PLTS masih dalam fase kajian. ”Kita masih menunggu pemaparan detailnya. Biasanya kalau ada investasi yang masuk ke Banyuwangi, kita minta untuk paparan secara detail, jadi kita bisa siapkan proses perizinannya,” jelasnya.
Secara teknis, wilayah Kalipuro cukup efektif menjadi lokasi PLTS. Curah hujan di wilayah Kalipuro yang tidak terlalu tinggi akan mempermudah pengisian energi dari matahari. ”Ini unik dan menarik sebenarnya. Kondisi wilayah yang jarang hujan, bisa manfaatkan untuk pembangkit listrik,” tandas Mujiono. (fre/aif/c1)