Rasa bimbang itu saya (dan juga keluarga) alami. Sesaat dan setelah acara halalbihalal keluarga, di halaman kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), 2 Mei 2023 lalu. Bimbang lantaran pujian datang terus-terusan. Bertubi-tubi. Mulai dari Bupati Ipuk, lalu disusul undangan yang lain. Mereka memuji dua hal sekaligus. Ya sajian menu halalbihalal-nya, ya model acaranya.
Memang, pada halalbihalal kemarin, kami menyajikan tujuh suguhan menu berbeda. Mulai dari bakso, mi dan nasi goreng, tahu campur Lamongan, sate, jajajan pasar, dan jenang pasar. Ditambah nasi bungkus khas Kemiren yang dibawa langsung oleh Pak Iwan. Makanan-makanan itu tidak dimasak oleh chef restoran, atau warung terkenal. Melainkan makanan kelas PKL (pedagang kaki lima).
Tapi, meski kelas PKL-an, jangan ditanya soal cita rasanya. Maknyusss. Tidak kalah lezat dibandingkan makanan yang tersaji di ruang-ruang mewah restoran. Semua yang menikmatinya, tak henti-henti memberondongkan kata pujian. ”Enak sekali, masakannya”. Kalimat itu saya dengar langsung dari Bupati Ipuk, Kapolres Deddy, Dandim Eko, Pak Fudholi (Kepala KPP), sampai para kepala dinas yang hadir. Di antaranya Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda, Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Budi Santoso, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Djuang Pribadi, dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Nanin Oktaviantie. Mereka terpesona terhadap taste setiap menu yang dicicipinya.
Setelah itu, mereka meluncurkan pertanyaan: dari mana saja dapat PKL-PKL kuliner itu, dan bagaimana cara memilihnya.
Wajar mereka penasaran. Sebab, butuh waktu beberapa hari untuk memilih dan memilah PKL yang layak didatangkan ke acara halalbihalal keluarga kami. Singkat cerita, tim kami melakukan sendiri obervasi terhadap puluhan PKL. Selain kekhasan masakannya, taste-nya juga menjadi pertimbangan utama. Hingga terpilihlah tujuh perwakilan PKL tersebut. Yang semuanya punya kelebihan. Dibandingkan PKL yang tidak masuk nominasi.
Soal rasa, saya dan keluarga memang agak rewel. Lidah pengecap kami sangat peka. Hehe....
Kami menganut prinsip: membuat kenyang itu pertimbangan nomor terakhir, yang utama adalah rasanya—memanjakan selera atau tidak! Karena rasa, kami tidak canggung makan di warung. Atau bahkan di tempat PKL. Lengkap dengan suara musik alaminya: deru lalu-lalang mobil dan motor. Memang bising. Tapi, sekali lagi, yang dicari pertama oleh penikmat kuliner sejati adalah rasa makasannya. Tempat menjadi pertimbangan kesekian. Meski kelas PKL, asal bersih tempatnya dan nikmat makasannya, why not.
Meski tidak sering, alhamdulillah, saya sudah pernah merasakan sensasi makan di restoran dengan tiga wah: wah tempatnya, wah penyajiannya, juga wah harganya. Tapi, bagi saya, rasa masakannya hanya sebatas enak. Tidak meninggalkan kesan khusus. Tidak meninggalkan jejak rasa yang mumpuni. Enaknya hanya ketika makan di tempat yang luas, ber-AC, dan diiringi musik berkelas. Begitu keluar dari tempat makan seperti itu, menguap seketika kesan rasanya.
Itu sebabnya, maaf, saya selalu memilih salah satu tempat makan di Jalan Ahmad Yani Banyuwangi—di sekitaran kantor bupati, daripada restoran megah yang ada di seberang jalannya. Salad di rumah makan itu, menurut lidah saya, tidak ada duanya. Rasa kuahnya terbuat dari gerusan biji wijen. Benar-benar maknyus rasanya. Terutama dimakan di malam hari—di waktu saya tidak makan nasi!
Wa bakdu. Kembali ke acara halalbihalal. Sebenarnya bisa saja saya memanggil katering. Untuk menyiapkan suguhan makanan bagi para undangan. Dan, kebetulan, itu sudah pernah kami lakukan. Pada acara halalbihalal beberapa tahun lalu. Namun, akhirnya kami sadar dan memutuskan: dengan memakai jasa katering berarti saya hanya menghidupi satu orang (pengusahanya). Padahal, orang tersebut tidak layak dihidupi. Ia sudah bisa hidup sendiri. Dengan usaha besar kateringnya.
Beda dengan PKL. Rata-rata modal usaha mereka cupet. Tidak punya banyak tabungan. Karena penghasilan setiap harinya tidak sebejibun pengusaha katering. Dengan mengundang tujuh PKL, berarti dalam sehari itu kami telah ”menghidupi” setidaknya tujuh orang pengusaha kecil. Dengan modal usaha yang pas-pasan.
Meski begitu, mereka tak pernah lupa cara bersyukur. Selalu menyukuri sekecil apa pun rezeki yang diterimanya. ”Alhamdulillah, terima kasih telah mengajak kami ikut di acara seperti ini. Selain semua jualan laku, kami juga bisa berkenalan dan dikenal oleh banyak orang lagi. Bahkan, melihat langsung bupati dan pejabat yang lain. Sekali lagi, terima kasih,’’ kata para pemilik PKL itu polos.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, halalbihalal keluarga kami, kali ini, tidak hanya dihadiri keluarga besar JP-RaBa. Melainkan juga undangan dari pihak eksternal. Antara lain, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, Kapolres Banyuwangi Deddy Foury Millewa, Dandim 0825 Banyuwangi Letkol Eko J. Ramadan, Kepala KPP Pratama Banyuwangi Ahmad Fudholi, dan sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Dari kalangan pengusaha ada ahli kopi dunia Setiawan Subekti (Iwan), Ketua BPC HIPMI Banyuwangi Ferdy Elfian dan Dede Abdul Ghany (mantan ketua HIPMI Banyuwangi), serta pemilik Langgar Art Banyuwangi Imam Maskun.
Apresiasi dari para undangan itu cukup melegakan. Akan lebih membahagiakan bila setelah mengapresiasi makanan dan bertemu langsung dengan pemasak makanannya, para undangan mengundangnya di acara mereka. Baik salah dua atau langsung sepaket tujuh PKL. Jangan khawatir, nomor kontak telepon dan alamatnya sudah masuk sebagai keluarga baru kami. Sewaktu-waktu diminta unjuk masakan untuk memuaskan perut, mereka selalu siap grak. Insya Allah.
*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin