Dijamin Anda akan terkaget-kaget. Melihat the new of muara Sungai Kalilo. Yang berada di Lingkungan Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi itu. Anda akan melihat langsung. Lalu membuat perbandingan dua kondisi yang bertolak belakang secara drastis. Dulu dan sekarang.
Bila Anda pernah jalan-jalan di muara Kalilo sebelum ekspedisi Susur Sungai Kalilo (Susuka)—kerja bareng Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) dan Dinas PU Pengairan Banyuwangi, mata Anda pasti terganggu dengan endapan tanah dan lumpur. Sedimentasi itu terjadi begitu lama, sehingga ditumbuhi rumput dan tanaman liar.
Nah, sekarang kondisinya sudah beda. Lebih kurang 180 derajat perbedaannya. Bila Anda melihat dari angle (sudut pandang) yang sama, maka mata Anda akan langsung penyar. Nyaris tak akan menemukan lagi gunungan sedimentasi dan tanaman liarnya di muara Sungai Kalilo.
Salut untuk tim Dinas PU Pengairan. Tiga alat berat (ekskavator) yang mereka operasikan selama berhari-hari, berhasil mengeruk tanah dan endapan lumpur di muara Sungai Kalilo. Mereka juga sudah berhasil menjebol groundsill. Fondasi ambang batas air itu sebelumnya membatasi muara Sungai Kalilo, sehingga air dari atas terhalang, tidak bisa langsung mengalir ke area mangrove—yang tumbuh di seberang groundsill.
Dengan terhalangnya aliran air akibat adanya groundsill, terjadilah sedimentasi parah pada puluhan hektare area di bawahnya. Aliran air sungai mengecil, terdesak sedimentasi. Ketika Sungai Kalilo terkirimi air hujan curah tinggi dari wilayah atas, airnya langsung meluap. Banjir tak terhindarkan. Seperti yang terjadi belum lama ini. Bukan hanya sekali. Tapi banjirnya berkali-kali.
Menjebol groundsill dan mengeruk sedimentasi parah di muara Sungai Kalilo terbukti merupakan solusi jitu. Ketika beberapa hari lalu terjadi hujan ekstrem, daerah aliran sungai (DAS) Kalilo kembali dipenuhi air kiriman dari daerah atas. Belabur. Air sungainya tinggi. Namun, tidak sampai meluap. Wilayah Kepatihan dan Kampung Ujung pun aman dari banjir. Padahal, warga Lebak, Continental, Kampung Ujung, dan sekitarnya sudah ketar-ketir. Mereka masih trauma. Sebab, belum lama ini, rumah dan lingkungan mereka disambangi banjir parah.
Rasa waswas mereka akan benar-benar sirna, manakala normalisasi muara Sungai Kalilo sudah paripurna. Yakni, ketika tak tersisa lagi sedimennya—meski segenggaman tangan bayi. Tanggul yang membentengi air di kanan kiri muara Sungai Kalilo kembali kinclong. Kelihatan mozaik pemasangan batu sungainya.
Muara Sungai Kalilo pun kembali menjadi mangkok besar. Yang terbebas dari kerak-kerak tanah. Dengan kedalaman dua meter dan lebar 30 meter. Dan, siap menerima kiriman 15.000 sampai 18.000 meter kubik air, dengan kecepatan 400 sampai 600 meter kubik air per detik!
Begitu kondisi muara Sungai Kalilo benar-benar normal, normalisasi masih akan dilanjutkan. ”Proyek reguler normalisasi akan dilanjutkan sampai ke area plengsengan Kampung Mandar,’’ ujar Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo kepada JP-RaBa, beberapa waktu lalu.
Air belasan ribu meter kubik di ”bak penampungan’’ di muara Sungai Kalilo selanjutnya dialirkan ke muara Kampung Mandar. Kita tahu, sebelumnya muara Kampung Mandar merupakan bagian tak terpisahkan jalur muara Sungai Kalilo. Namun, selama ini aliran airnya tersumbat tanaman mangrove.
Solusinya, harus mengurangi sebagian mangrove tersebut. Bukan menghilangkan atau membabat habis. Hanya merapikan sekitar 25 meter. Untuk jalannya air. Supaya air dari muara Sungai Kalilo bisa langsung bablas. Mengalir lancar sampai ke muara Mandar. Lalu lepas ke laut Selat Bali. Lewat destinasi wisata Plengsengan di Kampung Mandar. Selama ini, khususnya pagi hingga sore, tempat tambat perahu di Plengsengan Mandar ”kekurangan air”. Karena pasokan air dari pintu masuk utara Pantai Marina Boom sedang surut.
Kalau nanti air dari muara Sungai Kalilo di Kampung Ujung sudah lancar mengalir ke utara, maka muara Mandar tidak akan mengenal kata surut. Puluan perahu yang sedang sandar akan kelihatan kampul-kampul. Menari-nari. Menghibur orang/wisatawan yang sedang menikmati ikan bakar di sepanjang pinggir Plengsengan. Selama ini, pemandangan eksotis itu hanya dinikmati ketika malam hari.
Wa bakdu. Saya sudah tidak sabar. Ingin melihat mangkuk muara Sungai Kalilo di Kampung Ujung segera terisi penuh air. Ada lalu-lalang perahu mengangkut wisatawan. Menyusuri kawasan mangrove di sisi selatan sampai ke timur. Di beberapa lokasi tanggul selatan dan utara, ada spot untuk memancing. Asyik. (Pekolom Banyuwangi)
Editor : Gerda Sukarno Prayudha