Sampel yang terdiri dari swab sisa muntahan dan sampel rektal dari korban keracunan itu dikirim ke Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof DR Sri Oemiati Badan Litbangkes Kemkes RI di Jakarta Pusat.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat mengatakan, pusat tertarik dengan kasus tersebut. Kemenkes ingin tahu penyebab keracunan yang mengakibatkan puluhan wartawan dibawa ke rumah sakit. ”Kalau dibawa ke Jakarta, penelitianya bisa sampai ke tingkat strain. Jadi, lebih halus dan lebih jelas lagi,” kata Amir.
Terkait dengan hipotesis asal muasal penyebab keracunan, Amir mengaku belum berani menduga-duga. Namun, dari keterangan yang sempat disampaikan pihak Bank Indonesia dan beberapa peserta, makanan yang dikonsumsi di Alas Purwo dan Hotel Ketapang Indah sama-sama berpotensi menjadi penyebab keracunan.
Ada beberapa peserta yang mengonsumsi makanan di Alas Purwo, tapi tidak makan di Hotel Ketapang Indah juga menunjukkan reaksi keracunan. Begitu juga sebaliknya. Ada yang makan di hotel, namun tidak makan di Alas Purwo juga menunjukkan reaksi keracunan. ”Ada beberapa orang yang intoleran dengan makanan. Dalam kasus ini ada penyebab lain karena terjadi bersamaan,” terangnya.
Terkait hasil lab, Amir mengatakan kemungkinan awal pekan depan baru muncul. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menyampaikan hasilnya. ”Kami belum tahu hasil uji lab mana yang lebih dulu keluar. Yang pasti tujuannya untuk mengetahui penyebab keracunan,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, puluhan wartawan dari berbagai media di Jawa Timur mengalami musibah Senin kemarin (12/12). Usai menyantap seafood, mereka mengeluh pusing disertai muntah dan diare. Para jurnalis tersebut diduga keracunan usai menyantap hidangan berbagai menu seafood.
Sebagian wartawan langsung dilarikan ke RSUD Blambangan dan Rumah Sakit Islam (RSI) Yasmin. Setelah mendapatkan pertolongan medis, kondisi mereka berangsur-angsur normal kembali. Para wartawan tersebut merupakan peserta gathering media yang digelar Bank Indonesia (BI) di Hotel Ketapang Indah, Banyuwangi. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud