Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Joko Yes

Ali Sodiqin • Rabu, 14 Desember 2022 | 23:09 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
INI tentang buku ”gelap”. Karena ditulis secara sembunyi-sembunyi. Tanpa sepengetahuan sosok yang ditulis.

Ketika ditawari menuliskan endorsement, saya jawab iya-iya saja. Tapi, begitu mendengar permintaan khusus si penyusun buku, saya jadi ragu. Bertanya-tanya. Ada apa ini?

”Jangan sampai, Pak ... tahu, ini rahasia,” pinta Husnizar Hood, si penyusun buku itu. Sastrawan Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) itu, menjelaskan, buku tersebut dia buat eksklusif. Bentuknya sederhana. Hanya berisi pernyataan—lebih tepat disebut kesaksian. Dari orang-orang penting. Yang dianggap punya hubungan spesial dengan si objek tulisan.

”Makanya, saya berharap sangat, proyek buku ini jangan sampai bocor. Nanti, bukunya akan kami serahkan saat Pak ... berulang tahun,” pesan Bang Nizar (saya biasa menyapa Husnizar Hood). ”Wah, ini termasuk buku gelap ya, Bang?” goda saya, saat itu (sekitar sebulan lalu).

Ternyata saya tidak salah menyebut buku itu gelap. Dua pekan lalu, saya menerima paket dari Tanjungpinang. Karena penasaran, segera saya buka bungkusnya. Benar adanya. Bukunya memang bersampul gelap. Tidak ada warna lain. Kecuali judulnya yang mencolok: Joko Yes. Dan, foto lelaki dengan senyum mengembang. Badannya berbalut pakaian Melayu-Kepri warna cokelat gelap. Lengkap dengan tanjak (udeng khas Melayu-Kepri) melingkar di kepalanya.

”Joko Yes” adalah julukan baru Joko Yuhono. Diberikan teman-teman seniman-budayawan—juga masyarakat se-Kota Tanjungpinang. Bukan tanpa alasan. Bukan pula basa-basi. Menurut mereka sebutan itu sangat pas untuk Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Tanjungpinang itu. Alasannya?

Selama Joko menjabat di Tanjungpinang sejak dua tahun silam, para seniman-budayawan dan masyarakat di sana merasa terperhatikan. Urusan kebudayaan yang sebelumnya tersendat menjadi lancar. Kegiatan berkesenian bergeliat kembali. Joko tidak hanya nimbrung tampil dalam kegiatan berkesenian. Tapi dia juga ikut ”memperjuangkan” anggaran berkeseniannya. Terutama membuka sumbatan yang terjadi di birokrasi. ”Anggaran berkesenian dan pelestarian budaya itu haknya seniman. Tidak boleh diganggu. Tanjungpinang kan kota budaya,” katanya suatu ketika, saat ngobrol dengan saya di Tanjungpinang.

Joko punya cara sendiri untuk ikut ”protes”. Dengan cara yang sangat unik. Yang, rasa-rasanya, sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang penegak hukum. Apalagi, Kajari. Tidak bisa itu karena selama ini (sepengetahuan saya) belum pernah ada koleganya yang melakukannnya.

Seperti apa cara protesnya Joko? Dia memasang baliho besar. Baliho ”protes” itu berisi puisi. Yang ditulis sendiri oleh Joko. Terdiri dari tiga bait. Di samping setiap baitnya ada foto aksi Joko saat baca puisi. Puisinya diberi judul Kita Adalah Satu. Seperti ini bunyinya:

Walikota kita SATU

Ketua Dewan kita SATU

Sekda kita SATU

Anggaran kita SATU

Rakyat kita SATU

 

     Tapi mengapa kita selalu berseteru

      Mengapa kita tidak dapat bersatu

      Bukankah di waktu bulan madu pemilu

      Kita bersatu padu berseru

      KOTA TANJUNGPINANG MAJU

 

Wahai para pemimpinku

Hapuslah laraku

Hilangkan deritaku

Damaikan tanah melayuku

Sejahterakan bumi gurindamku.

 

Masyarakat kecil juga merasa sering mendapat bantuan dan perlindungan. Bahkan, Joko menyediakan waktu untuk menjadi ”pembina” para penjual kopi di pinggir-pinggir jalan. Dulu, ketika kasus Covid 19 meledak, para penjual kopi mendapat perlakuan kurang manusiawi dari aparat. Mereka disemprot oleh aparat dengan selang air pemadam kebakaran. Bukan hanya penjualnya yang semburat. Dagangan kopinya juga ikut berantakan.

Setelah dilapori dan melihat langsung di lapangan, Joko langsung meminta komandan aparatnya menghentikan perbuatan tidak manusiawi itu. Dia meminta orang kecil itu diperbolehkan berjualan lagi. ”Saya menjadi jaminannya,” kata Joko.

Joko memang jaksa unik. Dia tidak mau menjadi kepala kejaksaan yang biasa-biasa saja. Terjebak pada rutinitas. Seperti anak main kelereng. Mereka pasti mahir semua menembakkan kelerengnya. Karena saban hari itu yang mereka mainkan. Joko ingin mahir main kelereng, juga menguasai permainan-pemainan lainnya. Terutama permainan yang mengutamakan kerja sama tim dan mengutamakan empati kepada sesama. Saat menjadi kepala kejaksaan, Joko pun ingin membantu orang sebanyak-banyaknya. Terutama masyarakat kecil dan kalangan seniman yang notabene komunitasnya.

Lelaku Joko itu membuat banyak orang bingung. Dia dikenal sebagai penegak hukum yang lurus. Keputusan dan tindakannya selalu terukur. Tapi, di kesempatan lain dia begitu cair. Bisa bergaul dengan kalangan mana pun. Sering baca puisi di acara-acara sastra. Juga membaur dengan seniman dalam sebuah acara diskusi. ”Ini jaksa yang seniman atau seniman yang jaksa,” tulis Pepy Candra. Kesaksian Pepy yang penari, seniman, koreografer, dan mantan anggota dewan itu menjadi pembuka buku Joko Yes.

Wa ba’du. Saya juga menulis kesaksian apa adanya, seperti yang saya lihat dan rasakan: ”Seperti orang Banyuwangi umumnya, darah seni mengalir dalam tubuh Joko. Mengalir sejak lahir. Dengan begitu, saat di mana pun dan menjadi apa pun, jiwa seniman Joko tetap akan mengiringinya. Selamat Kang Joko, jaksa yang penyair”.

Joko pasti bahagia. Mendapat kado istimewa: buku Joko Yes. Di ulang tahun ke-55-nya. Kebahagiannya makin lengkap, ketika dia menerima penghargaan langsung dari Menpan-RB, Abdullah Azwar Anas, Selasa pekan lalu (6/12). Penghargaan itu diberikan atas prestasi Kejari Tanjungpinang, sebagai unit penyelenggara pelayanan publik kategori pelayanan prima tahun 2022.

Selamat Kang Joko. Sebagai orang Banyuwangi saya ikut bangga atas prestasimu—seperti juga yang ditunjukkan oleh para diaspora Banyuwangi yang lainnya.

*) Penulis Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin
#kolom #man nahnu #artikel #refleksi #opini