Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ruangan Bersinar Indah Karenanya

Ali Sodiqin • Rabu, 7 Desember 2022 | 22:04 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
PUAS rasanya. Akhirnya ketemu juga. Yang saya cari. Selama bertahun-tahun.

Ternyata, ia tidak di luar kota. Melainkan di daerah sendiri: Banyuwangi! Maka, tidak perlu jauh-jauh. Untuk mendapatkannya lagi. Yang baru.

Bagi saya, yang lama dicari-cari itu ”sesuatu banget”. Bisa menyempurnakan koleksi pribadi. Menempati tempat yang sudah lama saya siapkan. Meski, sebenarnya, tempat itu selama ini sudah terisi. Oleh ”sesuatu yang lain”. Tapi, ketika memasang ”yang lain” itu, saya bisikkan pesan: ”Ingat, kamu tidak selamanya berada di sini. Kelak, kalau penghuninya yang asli sudah kutemukan, kamu harus rela berpindah tempat ya.”

Dan, kemarin, ia rela berpindah tempat. Pahatan kaligrafi di papan kayu itu ikhlas. Menerima kenyataan. Bahwa, pemilik tempat yang asli sudah datang. Pahatan kaligrafi itu bukannya tidak bagus. Tapi, tetap saja, saya kurang sreg. Pelitur kayunya terlalu gelap. Model pahatannya yang tembus ke belakang, justru membuat karya itu sulit dibaca. Ditambah penggarapannya yang kurang rapi. Saya menyebutnya (maaf, agak kasar), proses pembuatannya dilakukan oleh tukang.

Saya tidak menemukan jejak kreativitas di karya itu. Justru yang menonjol keinginan cepat selesai si tukang pembuatnya. Ia melubangi/menggergaji setiap lafaznya (huruf lengkap harakatnya) sesuai contoh yang sudah mal. Tanpa mengalirkan penghayatan. Hasilnya, kaligrafi itu memang akhirnya jadi. Tapi, kurang bunyi: sulit dibaca dan kurang nendang estetikanya. Padahal, sejatinya kaligrafi itu sudah indah dari sononya.

Saya yakin, kaligrafi yang saya turunkan itu tidak akan sakit hati. Justru sebaliknya. Dengan senang hati menerima penggantinya. Dan, bahkan, bangga. Karena penggantinya jauh lebih bagus. lebih rapi. Lebih artistik.

Ya, kaligrafi baru itu saya dapatkan secara tidak sengaja. Bermula dari jalan-jalan iseng Jumat malam (2/12) pekan kemarin. Mencari sapu ijuk. Mata istri saya melihat deretan sapu tergantung di sebuah toko di timur perempatan Kali Lo. Seberang SD Al-Irsyad. Mampirlah kami ke toko bernama ”Anies” itu.

Di luar dugaan. Koleksi jualan toko itu bagus-bagus. Yang awalnya hanya cari sapu, malah belanja macam-macam. Istri saya menemukan sepasang nampan kaca untuk bikin kue. Bagus sekali. Ternyata buatan Turki. Bukan China, seperti umumnya. Jarang ada toko menjual barang serupa. Maka, tanpa pikir panjang langsung dimasukkan daftar pembelian sama istri saya.

Tapi, tidak dengan dua keset yang kami beli. Secara kasat mata keset itu bermotif hiasan khas Turki. Warnanya apalagi, Turki banget. Tapi setelah kami lihat labelnya, baru ketahuan aslinya. Eit, ternyata dua keset itu malah made in China. Hahaha....

Ndak apa-apalah. Soal begituan kami sudah kebal. Malah langsung teringat ketika sedang belanja di Makkah dan Madinah. Hampir semua kebutuhan aksesori jemaah umrah dan haji—mulai songkok, serban, baju gamis, sampai tasbih, didominani buatan tiga negara. Kalau tidak Bangladesh dan India, pasti buatan China. Malah, hampir 80% barang yang beredar di lapak-lapak di dua kota suci itu made in China.

Saat hendak keluar toko, bola mata saya tersangkut pada beberapa kaligrafi. Karya-karya itu ditaruh menumpuk di balik etelase kaca dekat pintu keluar. Langkah kaki saya terhenti. Lalu minta izin ke penjaganya untuk melihat lebih dekat dan detail. Saya amati satu per satu. Sangat detail pengerjaannya.

Selain tulisan Allah dan Muhammad, dua kaligrafi berisi ayat kursi menggoda hati saya. Saya putuskan memilih yang polanya simpel: melengkung setengah lingkaran ke bawah (setengah oval) dengan tulisan bismillah di tengahnya. Kaligrafi itu tampak elegan di atas landasan 75 x 90 cm. Terbingkai ornamen khas timur tengah. Dan terlindungi oleh pigura.

Membeli karya seni itu nyandu. Setelah mendapat satu ingin mencari yang lain. Pun karya kaligrafi. Setelah mendapatkan kaligrafi bertulisan ayat kursi, saya tanya ke pegawai tokonya: ”Yang asma’ul husna ada? Yang ukuran besar.” Dia jawab dengan cepat ada, ”Tapi, barangnya di dalam.”

Dia bergegas masuk. Tak lama berselang dia sudah kembali. Tapi tidak sendirian. Melainkan bersama laki-laki. Bersarung dan kaus oblong. Wajahnya khas Timur Tengah. Tapi teduh. Lelaki itu selanjutnya yang menjelaskan soal kaligrafi asma’ul husna dalam pigura besar. Ukurannya (tidak termasuk pigura) 85 x 120 cm.

Kecurigaan saya benar. Ternyata dia senimannya. Dialah pemahat kaligrafinya. ”Saya suka khat tsuluts,” katanya membuka pembicaraan. Saya pun demikian. Khat atau bentuk tulisan Arab  jenis tsuluts tampak eksotis. Bentuknya lentur. Tidak kaku. Bila diamati dengan jernih, tulisannya seperti sedang menari-nari. Lekukan-lekukan hurufnya sangat lembut.

Sebenarnya saya ingin bertanya: berapa lama pengerjaan setiap satu kaligrafinya. Bapak itu lebih dulu mengatakan, ”Saya baru membuat kaligrafi ketika sedang mood. Kalau tidak sedang mood, tidak bisa mengerjakan. Bila dipaksa hasilnya jelek. Ya, jadi kaligrafi. Tapi seperti buatan tukang. Tidak ada ruhnya,” jelasnya.

Kaligrafi karya lelaki itu beda dengan lukisan kaligrafi. Kaligrafi dalam lukisan prosesnya tidak sejelimet kaligrafi pahatan. Cukup gerakkan kuas yang sudah dilumuri cat air atau cat pastel di atas kanvas. Sedangkan yang dilakukan si bapak berusia 60-an tahun itu butuh tenaga dan pikiran ekstra.

Pertama, dia harus menggergaji setiap huruf dan harakatnya. Satu per satu. Dengan ukuran yang tidak hanya kecil, tapi juga rumit. Butuh kejelian. Sekaligus ketelatenan tingkat dewa. Media yang dia gunakan semacam tripleks dan gergaji kecil. ”Harakatnya saja sampai segini,” katanya sambil menunjukkan dua telapak tangannya yang dia satukan dalam posisi menengadah—seperti tangan orang berdoa.

Setelah semua huruf dan harakat siap, lalu ia tata/susun. Dalam proses ini, kehati-hatian dan kejelian menjadi kunci. Selain harus benar peletakan huruf dan harakatnya, juga harus memperhatikan pola yang diinginkan. Jangan sampai ada salah letak atau salah harakat satu saja. Sebab, kesalahan seperti itu akan mengubah makna kata/ayat dalam kaligrafinya. Bukan dapat pahala. Melainkan dosa jadinya. Apalagi, bila karya kaligrafi itu dibaca oleh banyak orang.

Makanya, koreksi berulang-ulang harus dilakukan. Terutama sebelum huruf-huruf Arab dan harakatnya ditempel ke media yang menjadi latar belakang kaligrafinya. Setelah tertata dan terpasang semua, masih harus dilakukan koreksi sekali lagi.

Saya kagum sama seniman kaligrafi yang satu ini. Terutama ketika dia menjelaskan proses kreatif dalam mengerjakan karyanya. Sungguh menakjubkan. ”Saya membuat ini dengan keringat, darah, dan air mata,” tuturnya.

Tersentak saya mendengar kalimat itu. Namun, setelah tahu penjelasannya, saya jadi mafhum. Dengan keringat maksudnya, proses pembuatan satu karya kaligrafi membutuhkan waktu lumayan lama, sampai bermandikan keringat. Yang dimaksud ”dengan darah’’ tidak lain adalah, saat menggergaji huruf-huruf Arab dan harakatnya, jari-jarinya sering tergores gergaji kecil nan tajam. Sedangkan ”dengan air mata” maksudnya, ukuran huruf dan harakatnya yang kecil, memaksa mata bekerja ekstra keras. Membutuhkan fokus pandangan saat memelototi satu per satu huruf dan harakatnya. Baik saat dalam proses menggergaji, maupun saat menempelkannya menjadi ayat lengkap.

Wa ba’du. Saking kagumnya, saat pulang saya lupa menanyakan nama lelaki itu. Tapi, karena dua kaligrafi yang saya beli itu harus diservis ulang oleh dia, saya punya kesempatan untuk menanyakan namanya.

Esoknya saya balik. Malam juga. Sepulang dari acara peluncuran perdana Kereta Api Blambangan Ekspres di Stasiun Ketapang. Saya sampai Toko ”Anies” di limit waktu tutup. Alhamdulillah, saya berjumpa lagi dengan pembuat kaligrafi itu. Tapi, lupa menanyakan namanya. Beruntung masih ada mbak penjaga toko yang ikut memasukkan dua kaligrafi ke dalam mobil saya. Dari dia saya tahu, nama seniman kaligrafi itu Nasim.

Kurang puas, saya berusaha mencari nama lengkapnya. Tidak berhasil. Sampai akhirnya saya menemukan sesuatu yang ”aneh”. Usai doa, saya mendongak. Memandangi kaligrafi bertulisan ayat kursi di musala pribadi saya. Di sudut bawah kanan ada tulisan kecil dan transparan. Sewarna dengan dasar kaligrafinya. Agak sulit membaca dengan mata telanjang saya yang sudah plus sekian. Baru jelas terbaca, setelah saya memakai kacamata. Ternyata sesuatu yang ”aneh” itu nama orang: Nasim Umar.

Siapa lagi itu, kalau bukan lelaki yang membuat saya kagum. Kerinduan puluhan tahun bertemu langsung dengan seniman kaligrafi akhirnya kesampaian. Tembok putih ruangan rumah saya kini menjadi bersinar indah dengan kehadiran dua kaligrafi karya Nasim Umar. Alhamdulillah.

*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin
#kolom #man nahnu #artikel #refleksi #opini