Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

GS+

Ali Sodiqin • Jumat, 11 November 2022 - 20:34 WIB
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
Samsudin Adlawi, Pekolom Banyuwangi.
APA jadinya jika pintu air bendungan tidak kunjung dibuka, sementara hujan tak pernah istirahat. Begitu dibuka, airnya pasti langsung meluap. Meluber ke mana-mana.

Seperti itulah kondisi Pantai Boom Sabtu (29/10/22). Setelah dua tahun kesepian tanpa Gandrung Sewu (GS), Boom begitu sesaknya pada akhir pekan di pekan terakhir Oktober itu. Boom banjir manusia. Kantong-kantong parkir Boom baru disesaki mobil dan motor penonton. Yang hendak menjadi saksi digelarnya kembali GS. Secara langsung (offline). Setelah dua tahun mereka tak bisa melakukan hal yang sama. Akibat pandemi Covid-19.

Ribuan orang itu tidak hanya berasal dari Bumi Blambangan. Tapi sangat banyak yang berasal dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Mereka sengaja datang berombongan ke Kota Gandrung. Tak ketinggalan para pejabat dari daerah lain sampai pusat. Salah satunya, Menteri PAN-RB Abdullah Azwar Anas, yang mantan bupati Banyuwangi 2010–2020.

Yang tidak bisa datang langsung, tetap bisa menyaksikan Festival GS secara daring (online). Terutama mereka yang tergabung dalam Ikawangi (Ikatan Keluarga Banyuwangi) dari seluruh provinsi di Indonesia. Tak ketinggalan pula diaspora kota the Sunrise of Java yang bekerja dan tinggal di luar negeri. Tiga di antaranya: Hongkong, Amerika Serikat, dan Jerman. Dan, mungkin masih banyak yang lainnya. Lewat kanal live streaming milik Pemkab Banyuwangi.

Festival GS memang punya magnet luar biasa. Khususnya, bagi para remaja pelajar Banyuwangi. Panitia sampai kewalahan meladeni para calon peserta. Awalnya, panitia (bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi) hanya akan menampilkan 650 penari. Tapi, selama proses seleksi calon penari GS 2022, untuk GS 2022, calon pesertanya membeludak. Hingga tembus 3.000-an.

Akhirnya, panitia mengalah. Karena banyak yang menangis. Banyak orang tua yang sampai memohon-mohon agar anaknya bisa ikut GS 2022. Panitia mengalah. Tapi, tetap menerapkan standar tinggi. Demi kualitas tampilan GS 2022. Panitia menyeleksi lagi. Terutama soal kemampuan dasar menari dan tinggi badannya. Sampai terpilih 1.200 talent. ”Dengan catatan, mereka sudah punya kostum gandrung sendiri. Kedua, mereka mau membiayai kebutuhan latihan sampai tampil secara mandiri,” kata Ketua Pelaksana GS 2022 Suko Prayitno dan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Choliqul Ridho, saat podcast di studio Jawa Pos Radar Banyuwangi TV, Kamis pekan lalu.

Bagi yang beberapa kali menyaksikan GS, mereka pasti sepakat dengan saya. Bahwa, ada yang baru di GS 2022. Yakni, musik pengiringnya. Bukan alatnya. Alatnya tetap sama: gamelan Banyuwangi. Yang baru adalah penggarapan aransemen beberapa komposisi yang dimainkan. Lebih dinamis. Lebih variatif. Mengiringi lagu-lagu Banyuwangen yang disenandungkan sindennya. Juga gerakan-gerakan penari gandrungnya.

Perbedaannya sangat terasa di telinga. Benar-benar menghadirkan suasana berbeda. Pada setiap perubahan segmen tampilan tarian penari. Yang sedang ”melantai” di hamparan pasir Pantai Boom. Garapannya terdengar sangat modern. ”Musik pengiringnya akan sangat berbeda. Karena digarap oleh para alumni ISI dan STKW,” tutur Suko.

Sayang, garapan musik yang sangat bagus itu kurang diimbangi dengan tampilan GS secara keseluruhan. Jangan salah sangka dulu!

Penampilan tarian gandrungnya sudah sangat OK. Komposisi tariannya juga OK. Kostumnya apalagi. Sangat harmonis pemilihan warnanya: jarit, baju, sampur, kipas, dan omprog. Padu padan sekali.

Kalaupun dicari kekurangannya adalah pola lantainya. Pembagian penari ke dalam beberapa kelompok itu bagus. Bisa memudahkan manajemen formasi yang sudah dibuat oleh para pelatihnya. Hanya saja, terlalu sering berada di posisi masing-masing grup yang berjauh-jauhan terasa sangat mengganggu. Terutama bagi penonton yang duduk di bangku undangan: VVIP, VIP, dan reguler. Mereka harus membagi fokus matanya ke kanan, kiri, dan tengah. Selain jaraknya berjauhan, grup-grup penari itu terlalu lama berada di kanan, kiri, dan belakang venue.

Yang paling ”dirugikan” yakni para fotografer dan kamerawan TV. Mereka sangat kesulitan mendapatkan angle gambar ribuan penari gandrung dalam sekali jepretan. Penyabebanya itu tadi: penarinya terlalu banyak tercerai-berai dalam beberapa grup. Kecuali, bagi pengguna ponsel. Mereka bisa dengan mudah  menggunakan teknik pemotretan panoramik. Tapi, itu akan sangat menyiksa. Bila dilakukan berkali-kali.

Saya bisa mengerti kesulitan yang dialami para pelatih GS. Sepertinya mereka ”terpaksa” membuat pola lantai seperti itu. Komposisi yang mereka buat untuk menyesuaikan sendratari yang ”disusupkan” dalam GS. Seperti penyakit tahunan, sendratari itu selalu muncul dalam pementasan GS. Dari tahun ke tahun.

Pertanyaannya, apakah sendratari itu harus selalu ada dalam GS?

Kalaupun harus ada, maka itu menjadi penyebab ”kegagalan” GS secara keseluruhan. Kesan yang muncul selama ini, sendratari dalam GS seperti dipaksakan. Kurang nyambung dengan keutuhan konsep GS.

Bukan berarti tidak boleh memadukan sendratari ke dalam GS. Boleh-boleh saja. Asal: 1. Sendratarinya dikonsep lebih bagus lagi. Disesuaikan dengan konsep GS. Yang menampilkan tarian. Bukan sandiwara. Seharusnya sendratari dalam GS tidak terlalu realis. ”Mestinya gerakannya yang simbolis,” komen Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri.

Harus memperhatikan proporsi waktu. Jangan sampai sendratarinya terlalu mendominasi. Sehingga menenggelamkan GS-nya sendiri. Seperti yang kita lihat di Pantai Boom, Sabtu kemarin. Drama sendratrinya terlalu lama. Terlalu bertele-tele. Saya kasihan, melihat para penari gandrungnya ”nganggur” di sekitar pemain sendratari yang sedang memainkan lakon Dewi Sekardadu-Syech Wali Lanang. Lama sekali mereka menganggur.

Saya tidak tahu, pembagian waktunya seperti apa. Masing-masing segmen dapat porsi waktu berapa.

Tampilan jaranan butho dan barong yang membuka acara Festival GS sudah bagus. Sendratarinya yang dikeluhkan penonton. ”Kesuwen sendratarinya. Membosankan,” keluh penonton ibu-ibu yang duduk di deretan kursi VVIP belakang kursi saya.

Tambahan sendratari yang panjang bukannya tidak boleh. Boleh-boleh saja kok. Bahkan, waktunya sepanjang aksi penari GS juga gak masalah. Asal dibuatkan panggung sendiri. Entah di belakang atau di samping. Atau, bahkan di tengah. Tapi dibuatkan panggung yang lebih tinggi. Dengan begitu tidak akan merusak atraksi GS sebagai sebuah tontonan yang utuh.

Bagaimanapun, wa ba’du, ribuan penonton datang ke Pantai Boom dengan ekspektasi tinggi. Mereka ingin melihat kehebohan GS. Bersama para fotografer profesional, mereka ingin mendapatkan angle ketika ribuan penari gandrung menari secara kolosal di dalam formasi utuh. Bukan penari yang terbagi dalam grup-grup.

Penonton ingin merasakan sensasi seribuan gandrung menari bersama. Dalam satu formasi dan gerakan yang sama. Seperti pada GS beberapa tahun sebelumnya. Yakni, ketika 1.000 gandrung masuk ke lapangan pasir secara bersama-sama. Dari utara dan selatan venue. Momen yang membuat bulu lengan berdiri itu benar-benar tidak bisa dilupakan. Dan, meninggalkan jejak kerinduan. Rasanya ingin terus menonton GS.

Semoga tahun depan kita bisa berkesempatan menonton GS. Tidak masalah pada 2023 nanti tetap ada sendratarinya. Tapi, harus digarap lebih rapi lagi. Kalau bisa, gerakan-gerakan sendratarinya dibuat lebih simbolis, sehingga lebur menjadi satu dalam tampilan GS secara utuh. Sehingga, penonton tidak merasa kalau sebenarnya ada sendratari di dalam GS 2023. Jika berhasil, itu layak disebut GS+.

*) Pekolom Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin
#kolom #man nahnu #artikel #samsudin adlawi #opini