Ada 50 ekor tukik yang dilepaskan kemarin. Seluruhnya berasal dari hasil penetasan dan penelitian yang dilakukan oleh drh Aditya Yudhana dan tim dari Prodi Kedokteran Hewan, Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga dengan menggunakan alat inkubator buatan INTAN Box. Tukik-tukik juga sudah menjalani masa pemeliharaan dan observasi kesehatan selama kurang lebih 2–4 bulan.
Pembina BSTF Wiyanto Haditanojo menjelaskan, 50 ekor tukik tersebut berasal dari beberapa sarang alami yang direlokasi dari Pantai Sari dan Pantai Boom Banyuwangi. Telur dari Pantai Sari direlokasi ke INTAN Box di Laboratorium SIKIA Unair pada 6 April 2022. Telur tersebut menetas pada 9 Juni 2022 setelah melalui masa inkubasi selama 64 hari dengan setting temperatur 27,4–28,30 derajat Celsius. Ada 9 telur yang menetas, terdiri dari 7 ekor tukik jantan dan 2 lainnya betina.
Sarang kedua berasal dari Pantai Boom yang juga direlokasi ke laboratorium SIKIA Unair pada 15 Juni 2022 lalu. Setelah mengalami masa inkubasi selama 63 hari, dengan temperatur 27,4–28,30 derajat Celsius akhirnya pada 17 Agustus 2022 menetas 9 ekor tukik. Dengan 7 di antaranya berjenis kelamin jantan dan 2 ekor betina.
Lalu dari sumber ketiga, berasal dari Pantai Boom yang direlokasi ke INTAN Box di sekretariat BSTF pada 15 Juni 2022 lalu. Setelah menjalani inkubasi dengan rentang waktu 56 hari dan temperatur 28–29,50 derajat Celsius telur-telur itu menetas. Lalu, kemarin setelah dipelihara selama 72 hari, sebanyak 10 ekor tukik dilepasliarkan. Sembilan ekor di antaranya jantan dan 1 ekor sisanya betina.
Yang terakhir yakni telur dari sarang Pantai Boom yang direlokasi ke INTAN Box di sekretariat BSTF pada 18 Juni 2022 lalu. Setelah menjalani masa inkubasi selama 58 hari dengan temperatur 28–29,50 derajat Celsius, telur-telur penyu itu menetas. Kemarin, 22 telur dari sarang itu dilepasliarkan. Dengan rincian 21 ekor penyu jantan dan 1 ekor betina.
”Sejak mulai digunakan pada akhir tahun 2021 lalu, INTAN Box yang dirancang oleh BSTF sudah berhasil menetaskan lebih dari seribu butir telur penyu lekang dan 51 telur penyu hijau (Chelonia mydas),” kata Wiyanto.
Dia menambahkan metode penggunaan alat inkubator yang dikembangkan BSTF ini dianggap lebih efektif. Selain tak memerlukan media pasir seperti pada umumnya, INTAN Box juga terbukti memiliki rasio keberhasilan penetasan yang tinggi yaitu di atas 90%, lebih tinggi dari rata-rata penetasan semialami yang pernah dikelola BSTF.
Wiyanto menyebut, alat yang berbentuk boks ini juga tidak memerlukan tempat yang luas sehingga mudah dipindah, dipantau langsung, dan bisa menampung seribu butir telur penyu (tergantung dari jenis penyunya).
Keunggulan lainnya, jenis kelamin tukik betina maupun jantan rasionya lebih bisa dikontrol. Sebab, INTAN Box bisa menyesuaikan kelembapan dan suhu udara selama proses inkubasi berlangsung.
”Karena pemanasan global, saat ini mayoritas penyu yang menetas di alam berjenis kelamin betina. Padahal di alam liar, seekor induk penyu betina membutuhkan antara 4 sampai 6 penyu jantan untuk membuahi telur-telur yang ada dalam indung telur penyu betina. INTAN Box diharapkan menjadi solusi akibat pemanasan global, khususnya untuk pelestarian penyu,” imbuh Wiyanto.
Tukik berusia mulai dari 65 sampai 134 hari yang dilepasliarkan kemarin memiliki respons yang sama dengan tukik hasil penetasan alami maupun semialami saat kembali dilepasliarkan ke habitat alami di laut. Dari total 50 ekor tukik yang dilepasliarkan tersebut, 44 tukik berjenis kelamin jantan dan 6 ekor lainnya betina.
Data tersebut membuktikan bahwa INTAN Box berhasil menetaskan mayoritas tukik jantan dengan rentang suhu 27,4–29,50 C. Hal ini tentunya akan dijadikan bahan pengembangan penelitian oleh tim dari SIKIA UNAIR Banyuwangi sekaligus untuk pengembangan spesifikasi INTAN Box ke depannya.
”Kegiatan penetasan telur penyu ini juga terlaksana dengan kolaborasi dan dukungan dari instansi pemerintah, yaitu Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur,” pungkasnya.
Temuan BSTF Berpotensi Digunakan Tempat Konservasi Penyu Lain
Sementara itu, keberhasilan INTAN Box menetaskan mayoritas penyu dengan jenis kelamin jantan menarik perhatian berbagai pihak untuk bisa memanfaatkannya. Termasuk menjadi solusi untuk meningkatkan produksi penetasan penyu di berbagai wilayah
Kordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Banyuwangi Bayu Handoko mengatakan, tidak menutup kemungkinan nantinya inovasi ini akan dikembangkan untuk digunakan di tempat konservasi penyu lain di wilayah yang menjadi wewenang kantornya.
BPSPL Denpasar sendiri membawahi empat provinsi mulai dari NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur. ”Ada banyak kelompok yang juga melakukan konservasi kepada penyu. Rata-rata masih menggunakan cara konvensional. Dengan INTAN Box, potensi konservasi bisa ditingkatkan. Jadi, sangat memungkinkan nanti digunakan untuk kelompok lain,” kata Bayu.
Sejak tahun 2020, imbuh Bayu, BSTF sudah menjadi bagian dari kelompok konservasi yang berada di bawah naungan BPSPL. Karena itu, semua aktivitas BSTF, termasuk riset INTAN Box terus di-support BPSPL. Pihaknya juga berusaha mempermudah perizinan yang tengah diurus BSTF. ”Kami berikan support berupa satu paket alat yang digunakan di tempat konservasi, seperti sensor, pengukur pH, pendeteksi bakteri, dan lainya yang sekarang digunakan di INTAN Box,” tegasnya.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi Purwantono menambahkan, wewenang untuk memperluas penggunaan INTAN Box ke depan berada di tangan pusat. Sementara, pihaknya menilai belum bisa memutuskan karena INTAN Box masih dalam tahap penelitian.
Purwantono meyakini alat tersebut memiliki fungsi yang cukup baik. Apalagi, untuk mengamankan telur dari ancaman yang ada di alam. Akan tetapi, tetap diperlukan riset lebih dalam. Salah satunya untuk memastikan tukik tetasan INTAN Box bisa bertahan di alam. ”Memang konservasi di alam perlu ada intervensi. Penyu tidak peduli bertelur di mana, padahal saat ini banyak pantai yang menyempit. Jika INTAN Box nanti berhasil, saya rasa perlu diterapkan untuk konservasi,” tegasnya.
Sementara itu, peneliti dari Prodi Kedokteran Hewan, Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga drh Aditya Yudhana mengatakan, INTAN Box berhasil mengoptimalkan potensi menetasnya tukik berjenis kelamin jantan. Hal ini menurutnya cukup membantu proses konservasi penyu di alam.
Menurut Aditya, akibat cuaca ekstrem seperti saat ini rata-rata suhu di pasir bisa mencapai 31 derajat celcius. Jika dibiarkan, telur yang menetas bakal didominasi tukik betina. ”Suhu maksimal untuk menetaskan penyu jantan ini 29,5 derajat Celsius. Kalau terlalu tinggi berpotensi menjadi betina. Dan, kita tidak akan bisa mengontrol jika telur menetas secara konvensional dengan suhu ekstrem,” pungkasnya. (fre/afi/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid